0


Doa berbuka puasa yang sudah populer dibaca oleh kaum muslimin ingin mengulas keabsahan hadis doa berbuka Allāhumma lakaumtu…dst, yang disebut-sebut sanadnya lemah (menurut Ibnu Hajar Al-Asqolani) dan malah ada yang bilang palsu (menurut Mullah Al-Qani)”.
Nabi Muhammad Saw apabila berbuka puasa membaca “Allāhumma lakaumtu wa ‘ala rizqika afṭartu” (Hadis Riwayat Abu Daud dari Mu’az bin Zahrah). Terjemahan dari hadis di atas adalah: Ya Allah karena Mu aku berpuasa dan atas rezeki Mu aku berbuka, tanpa ada penambahan “wabika āmantu dan birahmatika yā arhamarrāhimīn”.
Setelah ditelusuri sumber asli dari hadis, ditemukan di dalam kitab ‘Aunul Ma’bud Syarah Sunan Abi Daud dalam bab “Ucapan ketika berbuka/ Bab Al-Qaul ‘indal ifṭar” no.22 hadis no.2355, cetakan Daarul Hadis tahun 2001, menjelaskan bahwa Nabi Muhammad Saw apabila berbuka puasa membaca doa singkat seperti teks hadis di atas, dan ibnu Al-Malik mengatakan doa ini dibaca sejenak setelah berbuka puasa.
Mata rantai periwayat hadis di atas terdiri dari 5 orang, yaitu Imam Abu Daud dari Musaddad dari Husyaim dari Huṣain (dengan huruf shad) dari Muaz bin Zuhrah “menghubungkan langsung” lafaz doa berbuka puasa yang populer dibaca oleh para ulama Indonesia bahkan oleh umat Islam di dunia ini, kepada Nabi Muhammad Saw.
Yang menarik dalam kajian hadis ini adalah, ternyata hadis yang sudah dihafal mati oleh hampir seluruh kaum muslimin yang menjalankan ibadah puasa mulai dari tingkat anak-anak sampai orang-orang dewasa bahkan ustaz-ustaz dan para ulama, adalah hadis mursal, yaitu hadis yang terputus periwayatnya, yaitu antara Muaz bin Zuhrah dengan Nabi Muhammad Saw ada seorang sahabat yang tidak disebut dalam mata rantai riwayat hadis tersebut, karena perkataan Muaz bin Zahrah “mendapat informasi” dari Nabi Saw, sebenarnya melalui perantara, sayangnya perantara itu tidak disebut di dalam rangkai periwayat, maka sanad hadis ini dikatakan musral.
Dengan kata lain, Muaz bin Abi Zahrah tidak pernah bertemu langsung dengan Nabi Muhammad Saw, karena beliau adalah seorang generasi pertengahan dari tabi’in (tanpa tahun wafatnya). Sedangkan periwayat yang di bawah tingkatannya adalah Huṣain bin Abd Rahman (wafat 136 H) adalah generasi kecil (yunior) tabi’in, dan periwayat berikutnya lagi Husyain bin Basyir (wafat 183 H) dan periwayat berikut adalah Musaddad bin Musarhad (wafat 228 M) dan sampai kepada Abu Daud Al-Sajastani (wafat 275 M). Matan hadis populer ini terdapat dalam karya monumentalnya “Sunan Abi Daud” yang memuat 4800 hadis, tergolong kepada kitab induk (ummahat). Dan perlu digaris bawahi, hanya Imam Abu Daud satu-satunya yang mencantumkan doa berbuka puasa ini, tidak terdapat pada kitab-kitab induk yang lain, seperti Sunan An-Nasai, Turmuzi, apalagi Ṣahih Bukhari dan Ṣahih Muslim, dan lain-lain.
Hasil penelusuran dari mata rantai (sanad) periwayat hadis berbuka puasa ini menyimpulkan bahwa hadis ini tidak tergolong kepada hadis ṣahih, karena hadis ṣahih seperti yang didefenisikan oleh Imam Nawawi dan Ibnu Ṣalah adalah: hadis yang mata rantai (sanad)nya tidak terputus diriwayatkan oleh perawi yang adil (dapat dipercaya, bagus akhlaknya, istiqamah dalam agamanya, lagi kuat ingatannya tanpa ada keganjilan dan cacat moral).
Dengan demikian, hadis tentang berbuka puasa yang telah diamalkan dan dibaca menjelang berbuka puasa atau setelah berbuka puasa, digolongkan kepada hadis aif, dan jika ada hadis ṣahih yang dibaca ketika berbuka puasa sebaiknya lebih diprioritaskan dari pada hadis ini.
Imam Nawawi di dalam kitab “Majmu’ Syarah Muhazzab Abi Ishaq AsySyairazi” menjadikan hadis di atas sebagai landasan hukum, bahwa sunat bagi orang-orang yang berpuasa untuk membaca doa tersebut ketika berbuka, dengan teks “Allāhumma lakaṣumtu wa ‘ala rizqika afṭartu” tidak seperti apa yang biasa kita baca “Allāhumma lakaṣumtu wabika āmantu wa ‘ala rizqika afṭartu birahmatika yā arhamarrāhimīn”, ada penambahan “wabika āmantu”, menurut Imam Nawawi hadis ini diriwayatkan dari Abi Hurairah (tanpa menyebutkan sumbernya), sedangkan di dalam kitab Sunan Abi Daud diriwayatkan dari Muaz bin Abi Zahrah dan dari Ibnu Umar dari kitab Sunan An-Nasai, namun Imam Nawawi tetap mengatakan bahwa hadis ini adalah garib (yang diriwayatkan oleh perorangan) yang dikelompokkan kepada hadis ḍaif, dan juga hadis mursal.
Setelah penulis menelusuri, ternyata tidak disebutkan Abi Hurairah sebagai periwayat yang bertemu langsung dengan Nabi Muhammad Saw. Diduga kuat mursal yang dimaksud oleh Imam Nawawi bukan mursal sahabat, boleh jadi mursal tabi’in, atau boleh jadi juga diriwayatkan oleh Abu Hurairah di dalam kitab selain dari Kutubussittah (kitab induk yang enam, Ṣahih Bukhari, Muslim, Abu Daud, An-Nasai, Turmuzi, Ibnu Majah).
Namun yang menjadi pertanyaan serius bagi kita, mengapa Imam Nawawi mengambil hadis di atas sebagai amalan untuk dibaca ketika berbuka puasa, sementara ada hadis yang kualitasnya lebih ṣahih dari hadis ini, seperti hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar: Adalah Nabi Muhammad Saw apabila berbuka puasa membaca “zahabazzomah, wabtallat al-‘uruqu, waṡṡabatal ajru insya Allah” (telah hilang dahaga, telah basah urat-urat leher, dan semoga berbuah pahala insya Allah). Dan kualitas hadis ini lebih baik dari hadis mursal.
Menurut penulis ada beberapa pertimbangan Imam Nawawi menjadikan hadis mursal di atas sebagai bacaan untuk berbuka puasa.
Pertama, hadis musal di atas meskipun digolongkan kepada hadis ḍaif, akan tetapi dapat dijadikan hujjah (alasan) untuk faḍail ‘amal (amalan-amalan anjuran). Kedua, mursal yang terjadi di dalam hadis ini adalah mursal sahabat, yaitu seorang periwayat pada level sahabat tidak disebutkan dalam mata rantai (sanad) hadis dan para sahabat telah dijamin keakurasian. Ketiga, keḍaifan hadis di atas dapat dibantu dengan riwayat-riwayat yang lain, seperti riwayat dari Abi Hurairah dan Ibnu Umar.
Kesimpulan penulis, terhadap takhrij hadis yang sederhana ini, kedua hadis doa berbuka puasa di atas dapat diamalkan, hanya saja pengamalannya dikondisikan. Jika berpuasa dengan air minum, maka bacalah doa “zahabazzomah, wabtallat al-‘uruqu, waṡṡabatal afru insya Allah/ telah hilang dahaga, telah basah urat-urat leher, dan semoga berbuah pahala insya Allah. Dan jika berbuka puasa dengan kurma atau buah-buahan dan makanan, bacalah doa: Allāhumma lakaṣumtu wa ‘ala rizqika afṭartu/ ya Allah karena Mu aku puasa, dan atas rezeki dan pemberian Mu aku berbuka.
Dan menurut konteks ke Indonesiaan biasanya kita berbuka dengan air minum, baru menyusul buah-buahan dan makanan, maka sebaiknya membaca do’a yang pertama. Wallahua’lam bil ash-shawab

Dikirim pada 26 Juli 2012 di Uncategories


Nusyuz secara kebahasaan diartikan “tempat yang tinggi”, yaitu sikap ketidakpatuhan yang muncul dari isteri ataupun suami. Dalam kitab Lisanul Arab – Ibnu Manzur (630 H) mendefenisikan nusyuz adalah “rasa kebencian salah satu pihak (suami atau isteri) terhadap pasangannya”. Sedangkan Fikih Islam Waadillatuhu – Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaily – guru besar Fikih dan Usul Fikih Universitas Damaskus – Siria, mengartikan nusyuz adalah “ketidakpatuhan salah satu pasangan terhadap apa yang seharusnya dipatuhi dan/atau rasa benci terhadap pasangannya”. Dengan kata lain, nusyuz berarti tidak taatnya suami/isteri kepada aturan-aturan yang telah diikat oleh perjanjian yang telah terjalin dengan sebab ikatan perkawinan, tanpa alasan yang dibenarkan oleh syara’.
Dengan demikian, ketidakpatuhan, kedurhakaan, pembangkangan terhadap sesuatu yang memang tidak wajib untuk dipatuhi, seperti suami menyuruh isteri untuk berbuat maksiat kepada Allah Swt, atau isteri menuntut sesuatu di luar kemampuannya, maka sikap ini tidak dapat dikategorikan kepada nusyuz – karena Nabi Saw bersabda: Tidak ada kepatuhan kepada makhluk untuk ma’siat kepada khaliq (Allah Swt).
Nusyuz bisa terjadi dari pihak isteri, sebagai dasar hukumnya adalah firman Allah Swt: Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuz­nya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka dan jika mereka mentaatimu maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya, sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar (QS. an-Nisa’: 34).
Adapun dasar hukum nusyuz dari pihak suami terhadap isteri adalah firman Allah Swt: Dan jika seorang wanita khawatir akan nusyuz atau sikap tidak acuh dari suaminya, maka tidak mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya, dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka) walaupun manusia itu menurut tabiatnya kikir, dan jika kamu bergaul dengan isterimu secara baik dan memelihara dirimu (dari nusyuz dan sikap tak acuh), maka sesungguhnya Allah adalah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan (QS. an-Nisa’: 128).
Jika nusyuz terjadi secara bersamaan dari kedua belah pihak (isteri dan suami), maka tidak dikategorikan kepada nusyuz, akan tetapi dikategorikan kepada syiqaq yang berarti perselisihan dan percekcokan, permusuhan yang berkepanjangan dan meruncing antara suami dan isteri, maka penyelesaian yang dilakukan untuk mengatasi kemelut yang berkepanjangan tersebut adalah dengan mengangkat hakim (penengah atau juru damai) guna mencari akar permasalahan dan juru damai yang dimaksud dapat diangkat dari pihak suami dan isteri atau dari pihak luar keluarga selama tujuan damai dapat dicapai, dan dasar hukum syiqaq ini terdapat di dalam surat an-Nisa’ ayat 35.
Maka jika tujuan damai tidak tercapai, para ulama Fikih berbeda pendapat tentang kebolehan menjatuhkan talak (cerai) karena semata-mata pertimbangan syiqaq. Mazhab Hanafi, tidak membolehkan menceraikan isteri karena alasan syiqaq, karena masih dapat diselesaikan lewat pengadilan untuk diberi nasehat oleh haki agar suami/isteri tidak lagi mengulangi sikapnya yang dapat menimbulkan perselisihan yang baru. Mazhab Maliki, membolehkan terjadinya perceraian atas pertimbangan syiqaq, karena syiqaq menimbulkan mudarat dalam rumah tangga dan mudarat dapat dihilangkan melalui perceraian lewat pengadilan atau wewenang suami.
Sedangkan Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaily berpendapat, pasangan suami/isteri yang berseteru berkepanjangan (syiqaq) tidak selamanya dapat diselesaikan tanpa perceraian, maka pengadilan dapat memutuskan untuk terjadinya perceraian dan putusan hakim terhadap perceraian akibat syiqaq, talaq yang dijatuhkan berstatus ba’in sughra, yakni suami bisa kembali kepada bekas isterinya dengan akan nikah yang baru (lihat Fikih Islam Waadillatuhu Juz: 7 hal.529).
Kembali kepada persoalan nisyuz. Nusyuz dapat terjadi dalam bentuk perkataan dan tindakan. Nusyuz perkataan dapat terjadi jika seorang isteri tidak berbicara sopan kepada suaminya, seperti memaki-maki suaminya, atau menjawab secara tidak sopan terhadap pembicaraan suaminya yang bersikap santun kepadanya. Sedangkan nusyuz dalam perkataan bagi pihak suami kepada isterinya adalah menghina isterinya, atau membentak-bentak isterinya yang telah menjalankan tugasnya sebagai isteri.
Adapun nusyuz dalam bentuk perbuatan, dari pihak isteri misalnya tidak mau pindah ke rumah yang telah disediakan oleh suaminya, tidak mau melaksanakan apa yang diperintahkan oleh suaminya dalam batas-batas tertentu sebagai tugas seorang isteri, keluar rumah tanpa izin suami, tidak mau melayani suaminya sedangkan dia tidak dalam keadaan uzur atau sakit. Sedangkan nusyuz dari pihak suami adalah mengabaikan hak-hak isterinya atas dirinya, seperti, tidak memberikan nafkah lahir batin pada isteri atau berfoya-foya dengan perempuan lain, atau menganggap sepi atau rendah terhadap isterinya.
Jika seorang isteri mengalami perlakuan nusyuz dari suaminya, maka isteri dapat melakukan dua hal, yakni: Pertama, bersabar terhadap perlakuan suaminya, karena dengan sikap sabar akan dapat menimbulkan kesadaran pada suaminya, jika membalas dengan perlakuan yang sama, maka kedua-duanya akan terjebak kepada nusyuz, dan pada gilirannya akan membawa kepada syiqaq dan syiqaq akan membawa kepada perseteruan yang berkepanjangan. Kedua, isteri dapat melakukan khulu’, yaitu kesediaan untuk membayar uang iwad (uang pengganti) agar suami bersedia untuk menceraikannya.
Sebaliknya, jika suami mengalami perlakuan nusyuz dari pihak isterinya, maka suami dapat melakukan empat hal, yakni: Pertama, memberikan nasehat kepada isteri agar bertaqwa kepada Allah Swt, dan nasehat diawali mengintrospeksi dirinya sendiri karena boleh jadi sikap nusyuz isteri timbul akibat sikap suami sendiri. Kedua, berpisah ranjang dan tidak saling tegur sapa (sebagai lanjutan dari tahapan pertama jika tidak berhasil di nasehati) dan tidak lebih dari tiga hari, berdasarkan Sabda Nabi Saw: Tidak halal bagi seorang muslim untuk tidka bertegur sapa dengan saudaranya lebih dari tiga hari tiga malam ((HR. Abu Daud dan Nasai).
Ketiga, memikulnya dengan tidak sampai mencederai, tidak boleh memukul wajah dan perut, dan dengan alat yang tidak membahayakan. Nabi Saw bersabda: Tidak dibenarkan salah seorang kamu memukul dengan pemukul yang lebih dari sepuluh helai lidi, terkecuali untuk melakukan hal-hal yang ditetapkan (hudud) Allah (HR. al-Bukhari Muslim). Keempat, adalah tahap yang diberikan untuk menyelesaikan syiqaq, yaitu mencari juru damai, hingga sampai ke pengadilan untuk melakukan perceraian.
Adapun konsekuensi hukum akibat nusyuz isteri terhadap suaminya adalah gugur kewajiban suami memberi nafkah kepada isteri nusyuz selama dalam nusyuznya, dan apabila suaminya meninggal dunia, isteri tidak mendapat warisan, terkecuali harta pembawaan sebelum terjadi akad nikah. Apabila jika seorang isteri murtad (na’uzubillāh), maka terputuslah hak untuk mendapat warisan, dan jika ada harta pembawaannya, tidak diwarisi tapi diserahkan kepada Baitul Mal (lihat Fikih Islam Waadillatuhu Juz 8 hal.408). alasan dari semua itu adalah karena nafkah adan warisan merupakan nikmat Allah, maka tidak dibenarkan mendapatkan dengan jalan kedurhakaan dan kemaksiatan. Wallahua’lam bil ash-shawab

Dikirim pada 04 Juli 2012 di Uncategories


Allah Swt berfirman: “Maha suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Mesjidil Haram ke Mesjidil Aqsha yang telah Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. Al-Isra’: 1)
Ayat di atas menjelaskan kepada manusia tentang kekuasaa Allah, dan kesucian-Nya dari sifat-sifat yang tidak layak bagi-Nya. Di antara kekuasaan-Nya yang tiada taranya dengan kekuasaan makhluk, memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) dari Mesjidil Haram ke Mesjidil Aqsha dan selanjutnya menuju langit pertama sampai ke tujuh hingga Sidratul Muntaha, Arasy, Mustawa, dan Raf-raf, sebagaimana diterangkan di dalam Alquran surat an-Najm ayat 13-18.
Dimulai pengkisahan peristiwa isra’ dan mi’raj, dengan kata “subhâna” (Maha suci Allah) menunjukkan bahwa peristiwa isra’ dan mi’raj ini adalah peristiwa yang luar biasa yang hanya terjadi karena kudrat dan iradat Allah Swt, bukan atas kehendak Nabi Muhammad Saw. Hal itu dijelaskan pada kata setelah “subhâna” yaitu “asrâ bi’abdihî” yang mengandung arti transitif (menghendaki obyek), yaitu kebalikan dari lazim intransitif (tidak mengehendaki obyek). Artinya berjalan malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha dalam waktu singkat (biasanya 1 bulan perjalanan unta berlari pada waktu itu) semata-mata itu terjadi atas kehendak Allah Swt kepada kekasihnya Nabi Muhammad Saw sekaligus sebagai mu’jizat yang menjadi ujian iman bagi orang-orang yang memahami peristiwa yang luar biasa itu.
Awal dari kisah itu sebagaimaa dituturkan oleh Ummu Hani’, salah seorang sahabat Rasul Saw, dan juga sepupu beliau. Malam itu Nabi Muhammad Saw menginap di rumahnya, dan sesudah salat malam Ummu Hani’ tidur dan sebelum fajar Rasulullah membangunkan sepupunya itu, dan menceritakan bahwa beliau (Nabi Saw) setelah salat malam pergi ke Baitul Maqdis dan melaksanakan salat di sana kembali ke Mekkah. Dan setelah panjang lebar peristiwa itu diceritakan kepada Ummu Hani’, maka Ummu Hani’ mengusulkan agar peristiwa ini tidak diceritakan kepada orang banyak, khawatir mereka akan mendustakan Nabi Muhammad Saw dan mengganggu ketenangan beliau.
Akan tetapi, Nabi Muhammad Saw telah berketetapan hati untuk menceritakan kepada orang lain sesuai dengan pengalaman yang telah dijalaninya.
Mengingat perjalanan dari Mesjidil Haram ke Mesjidil Aqsha menenempuh waktu yang cukup lama yaitu 1 bulan perjalanan unta berlari, maka cerita itu ditolak oleh orang-orang kafir karena tidak rasional dan tidak masuk akal.
Bahkan sebagian orang Islam ada yang bimbang jika peristiwa itu terjadi dengan fisik dan ruh secara bersamaan. Sehingga para sahabat ketika itu terpecah menjadi dua kelompok. Kelompok pertama, menerima dan meyakini bahwa isra’ dan mi’raj benar-benar terjadi dengan fisik dan ruh Nabi Muhammad Saw tanpa mendasari atas pertimbangan rasional mereka itu diwakili oleh Abu Bakar Siddiq (dan penamaan Abu Bakar dengan Laqab/gelar Siddiq artinya percaya disebabkan oleh peristiwa itu).
Kelompok kedua, kelompok para sahabat-sahabat yang meyakini bahwa peristiwa isra’ dan mi’raj benar-benar terjadi, akan tetapi hanya dengan ruh saja, yaitu merupakan perjalanan ruhani Nabi Muhammad Saw. Kelompok ini mendasari keyakinannya atas ucapan Ummu Hani’ dan Aisyah yang menyatakan bahwa beliau semalaman tidur dan tubuhnya tetap saja di tempat tidur.
Dan pendapat yang terakhir ini dibantah oleh mayoritas ulama, karena perkataan Aisyah bahwa beliau tidak pernah kehilangan jasad Rasul Saw di waktu malam tidak dapat diterima, karena beliau belum bersama Nabi Muhammad sewaktu di Mekkah, karena sejarah membuktikan bahwa peristiwa isra’ dan mi’raj terjadi di Mekkah di Mesjidil Haram, sedangkan Nabi tidur bersama dengan Aisyah setelah beliau hijrah ke Madinah.
Perlu digaris bawahi, meskipun ada kelompok sahabat yang menerima peristiwa dan meyakini isra’ dan mi’raj itu terjadi dengan ruh saja, tidak dengan jasad dan ruh secara bersamaan, namun mereka tidak sampai menolak atau mengingkari peristiwa itu telah terjadi. Berbeda dengan orang-orang musyrik pada ketika itu dengan alasan tidak masuk akal mereka mengingkari dan mendustakan bahwa isra’ dan mi’raj tidak pernah terjadi pada diri Nabi Muhammad Saw, mereka itu diwakili oleh Abu Jahal dan kawan-kawannya. Ketika Nabi Muhammad Saw menceritakan hal ini kepada orang banyak, Abu Jahal meminta kepada Nabi Muhammad untuk mengangkat kaki sebelah, dan kemudian menyuruhnya untuk mengangkat kedua-duanya, tentu Nabi Muhammad tidak mampu melakukannya. Lalu bagaimana Nabi Muhammad S.a.w. bisa naik ke langit sedangkan beranjak dari temtap saja tidak mampu. Atas dasar ini orang kafir mendustakan Nabi Muhammad sekaligus apa saja yang disampaikan oleh Nabi, rasional atau tidak tetap mereka tolak.
Penulis memahami bahwa persoalan rasionalitas atau tidaknya peristiwa isra’ dan mi’raj tergantung pada pengalaman dan kepercayaan seseorang. Jika ada seseorang yang menceritakan kepada orang-orang primitif bahwa sebuah benda yang dipegang oleh seorang manusia bila dilepaskan tidak akan jatuh ke bawah tapi naik ke atas, lalu masyarakat primitif pasti menolaknya, karena orang primitif tidak pernah melihat seseorang yang melepaskan benda dari tangannya lalu terbang ke atas, dan konsekwensinya dia pasti tidak akan percaya sampai mati.
Demikian pula kalau seseorang tidak percaya pada seorang insinyur yang belum berpengalaman membangun gedung yang tinggi dan tidak percaya dengan hitungan matematika dan material yang diperkirakan, dapat dipastikan dia tidak yakin dengan ucapannya dan cara kerjanya. Apalagi seorang pilot yang mengendalikan pesawat yang belum mengantongi jam terbang yang tinggi dan tidak menguasai peta perjalanan, atau tidak mengikuti rumus peta penerbangan orang-orang yang telah berpengalaman sebelumnya, pasti mereka tidak akan mau terbang dengan pesawat secanggih apapun yang diterbangkan sang pilot tersebut.
Pada akhirnya orang-orang yang terlalu rasionalisme dan mengandalkan akal semata, mereka akan susah hidup, karena betapa banyak urusan kita yang kita percayakan kepada orang lain untuk menyelesaikannya, sedangkan kita hanya mendasari atas pengalaman mereka dan kepercayaan. Pantaslah kaum rasonalis dan liberalis sangat sulit untuk menerima doktrin-doktrin Islam karena mereka masih primitif dalam keislamannya. Wallahua’lam bil ash-shawab

Dikirim pada 02 Juli 2012 di Uncategories


Secara umum, Alquran mengelompokkan orang muslim dalam melaksanakan shalat kepada dua kelompok besar, pertama kelompok yang beruntung dan sukses dunia akhirat, dan kedua kelompok yang gagal dan merugi bahkan diancam Allah Swt dengan azab neraka karena shalat yang dilakukan tidak memenuhi tuntutan yang dibebankan kepadanya.
Kelompok pertama terdiri dari tiga partai, yaitu: Pertama, Orang-orang mukin yang khusus dalam melaksanakan shalat. Allah Swt berfirman: Sesungguhnya telah menang/ sukseslah orang-orang mukmin yang khusu’ dalam shalat mereka (QS. al-Mukminun: 1).
Shalat khusus’ secara sederhana diartikan “kepatuhan hati dan fisik kepada Allah Swt”. jika itu terpenuhi di dalam pelaksanaan shalat, maka dapat dikatakan sebagai khusu’ internal, jika kepatuhan tersebut diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari dinamakan khusus eksternal, karena penanaman khusu’ tidak hanya untuk pelaksanaan shalat saja, akan tetapi alam semesta yang taat dan disiplin menjalankan tugansya juga dapat dikatakan khusu’ kepada penciptanya. Allah Swt berfirman: Jika kami turunkan Alquran ini kepada gunung niscaya kamu akan melihatnya tunduk terpecah-belah disebabkan takut kepada Allah dan perumpamaan-perumpamaan itu kami buat untuk manusia agar mereka berfikir (QS. al-Hasyr: 21).
Shalat khusu’ diibaratkan seperti jasad dan ruh yang tidak dapat dipisahkan, karena kepatuhan fisik dan jiwa hanya ada pada manusia. Seekor binatang “lembu” yang terlihat patuh pada pemiliknua, hanya merupakan kepatuhan fisik, dan pada hakikatnya jiwanya berontak kepada majikannya karena dia paksa, dipukul, ditarik untuk senantiasa tunduk mengikuti majikannya. Padahal kepatuhan dan ketakutan yang muncul dari seekor lembu tadi hanya merupakan gerakan fisik yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan nurani kebinatangannya. Karena jika ketundukan dan kepatuahnnya muncul dari nuraninya, niscaya seekor lembu akan melaksanakan tugas-tugasnya sehari-hari tanpa paksaan dari majikannya, sebagaimana naluri kebinatangan untuk mendapatkan makan dan minum tanpa dipaksakan.
Oleh sebab itu, shalat khusu’ tidak hanya terbatas pada gerak-gerik badan, berdiri, ruku’, sujud semata, kana tetapi bagaimana menundukkan jiwa kepada Allah Swt dengan segala rintangan-rintangan yang selalu bertolak belakang dengan kesuciannya, seperti nafsu setan dan sebagainya.
Dan untuk sampai kepada kepatuhan jiwa, Allah Swt mengilhami instrik rasa takut kepada manusia, rasa takut mati, takut miskin, takut dizalimi, takut terhadap azab Allah, bahkan salah satu tujuan lahirnya Declaration of Human Right (Deklarasi Hak Azasi Manusia) adalah bebas dari rasa takut (freedom from fear) menurut versi Presiden Amerika Roosevelt (Buya Hamka, Tafsir al-Azhar, 1990).
Dengan demikian, akan timbul rasa pengharapan (raja’) kepada yang Maha ditakuti, dan hilanglah ras atakut kepada makhluk, karena biasanya jika ada “ketakutan besar” maka “ketakutan kecil” hilang dengan sendirinya. Adanya rasa takut (khauf) dan harap (raja’) dalam jiwa manusia, kepatuhan jiwa dan fisik (khusu’) akan dapat terpelihara baik dalam internal shalat maupun eksternal shalatnya.
Kedua, Orang yang mudawamah (berkekalan) dalam melaksanakan shalat. Kelompok shalat ini adalah orang-orang yang sudah terlatih mengerjakan shalat sejak kecil sampai usia dewasa. Shalat sudah menjadi kembaran hidupnya dalam menghadapi segala persoalan kehidupan ini. Ciri khas dari pada kelompok ini adalah mereka yang jiwanya tidka cepat keluh kesah, tidak cepat menyerah terhadap cobaan dan ujian hidup, karena ia yakin bahwa shalatnya sanggup melepas dan membebaskan dirinya daru sufat keluh kesah. Allah Swt berfirman: Sesungguhnya manusia diciptakan dalam keadaan keluh kesah, apabila disentuh kesusahan diapun gelisah, apabila disentuh kesenangan dia menutup diri, terkecuali orang-orang yang shalat dan mereka berketetapan (mudawamah) dalam shalatnya (QS. al-Ma’arij: 19-23).
Ketiga, Orang yang muhafazah (menjaga shalat). Kelompok yang ketiga ini adalah orang-orang yang menjaga pelaksanaan shalat, baik dari sisi waktu pelaksanaan, berjamah, menjaga dan memperhatikan serta merenung setiap gerak-gerik dan ucapan shalat yang dikerjakannya termasuk shalat-shalat sunat rawatib dan muqaddimal-muqaddimal pelaksanaan shalat sebelum dia memulainya.
Ciri khas mereka ini, adalah oran gyang mempunyai kepedulian sosial yang tinggi, mampu menjaga amanah, tidak mau bersaksi palsu, punya aurah yang terhormat, dan mereka dihormati dan menghormati orang lain. Allah Swt berfirman: Dan orang-orang yang menjaga amanah dan janji mereka dan orang-orang yang jujur dalam persaksian dan orang-orang menjaga shakat mereka, itulah orang-orang yang dimuliakan di dalam syurga kelak (QS. al-Ma’arij: 32-35).
Kelompok yang pertama, pada hakikatnya tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lain. Dengan arti kata, orang-orang yang berkekalan dan berketetapan dalam pelaksanaan shalat, orang-orang yang menjaga shalat, dan orang yang khusu’ shalat adalah berada dalam kelompok orang-orang yang sukses di dunia dan akhirat, hanya saja mereka dibedakan oleh karakteristik tersendiri, ada yang yang bercirikan kepatuhan yang tinggi, ada pula yang memiliki kepedulian sosial yang istimewa dari yang lain, dan ada pula yang tabah dalam menghadapi rintangan hidup, sesuai bagian yang didapat dari penghayatan dan pengalaman yang diambil dari filosofis shalat itu sendiri.
Kelompok kedua adalah kelompok orang-orang yang gagal dan terancam disebabkan kegagalannya dalam melaksanakan dan menghayati perintah shalat, mereka terdiri dari tiga partai.
Pertama, Orang yang meninggalkan shalat. Mereka itu orang-orang yang diancam dengan azab Allah di akhirat berupa azab neraka saqar. Allah Swt berfirman: Apakah yang menyebabkan kamu masuk ke dalam neraka saqar? Mereka menjawab: kami orang-orang yang meninggalkan shalat (QS. al-Mudatsir: 42-43). Ciri khas mereka di dunia ini adalah orang yang tidak memiliki kepedulian sosial, memperdalam persoalan-persoalan yang tidak penting yang tidak memberi maslahat kepada kepentingan pribadi maupun orang banyak, tidak mempercayai adanya hari-hari kiamat.
Kedua, Orang-orang pemalas shalat. Partai kedua ini terdiri dari orang-orang yang mempunyai sifat kemunafikan dalam diri dan kehidupannya. Allah Swt berfirman: Apabila mereka melaksanakan shalat, mereka bergerak malas, suka dan ria (pamer) dan tidak banyak ingat kepada Allah melainkan sedikit sekali (QS. an-Nisa’: 142). Ciri khas mereka adalah mereka yang melaksanakan shalat menurut kemauan sendiri. Kalaupun mereka melaksanakannya penuh dengan kemalasan, dan tujuan mereka supaya dipandang orang sebagai muslim yang taat. Padahal mereka bermuka dua dalam shalat, sebagian untuk Allah sebagian untuk manusia. Demikian pula dalam kehidupan bermasyarakat, mereka selalu bermuka dua demi untuk mencari keuntungan duniawi semata.
Ketiga, Orang-orang yang lalai dalam shalat. Allah Swt berfirman: Celakalah mereka yang melaksanakan shalat, sedangkan mereka lalai dalam shalatnya (QS al-Ma’un: 4-5). Ciri khas mereka adalah orang yang suka menghalangi orang yang ingin berbuat baik, kikir, dan tidak memiliki kepedulian sosial untuk membantu anak-anak yatim dan orang-orang miskin.
Dari uraian klasifikasi di atas dapat dipahami bahwa, tidak semua orang-orang muslim melaksanakan shalat, dan jika mereka shalat tidak semua mereka melaksanakannya sebagaimana mestinya, dan pada gilirannya mereka terbagi dua menjadi kelompok sukses atau kelompok gagal. Wallahua’lam bil ash-shawab

Dikirim pada 02 Juli 2012 di Uncategories


Valentine Day yang berarti hari berkasih sayang dirayakan oleh orang-orang Barat beberapa tahun terakhir ini, bukan saja orang-orang Barat yang merayakannya dan mempopulerkannya, orang-orang Islam pun ikut terbawa-bawa memeriahkannya.
Hari Valentine, jatuh pada tanggal 14 Februari setiap tahun, biasanya dirayakan oleh kaula muda tanpa kecuali, baik dari kalangan muslim maupun non muslim. Tradisi perayaan ini sudah mulai merebak kemana-mana mulai dari pelosok-pelosok kampung hingga tempat-tempat hiburan di diskotik-diskotik, hotel-hotel dan lain-lain. Ironisnya mereka tak mau tau apakah Valentine Day ini bersumber dari ajaran Islam atau tidak.
Valentine yang diartikan sebagai hari penyampaian atau pesan kasih sayang sebenarnya adalah seorang martir yang rela mati karena mempertahankan kepercayaannya (dalam Islam disebut syahid). Ia seorang dermawan dan bergelar Santo, karena berseberangan dengan penguasa Romawi pada waktu itu yaitu Raja Claudius II (268-270 M). Valentine dibunuh pada tanggal 14 Februari 270 M. Untuk mengenang St. Valentine ini, sebagai simbol ketabahan, keberanian dan kepasrahan, maka para pengikutnya merayakan hari kematiannya pada setiap tanggal 14 Februari sebagai upacara keagamaan. Akan tetapi sejak abad ke-16 M, upacara keagamaan tersebut sudah mulai pudar dan berangsur-angsur hilang dan berobah dari hari perayaan keagamaan menjadi hari pesta jamuan kasih sayang Romawi Kuno yang disebut “Supecalis” yang jatuh pada tanggal 15 Februari.
Akhirnya setelah orang-orang Romawi itu masuk agama Nasrani, hari pesta jamuan kasih sayang itu dihubungkan dengan upacara kematian St. Valentine sebagai hari kasih sayang, sesuai dengan kepercayaan orang-orang Eropa bahwa hari kasih sayang itu jatuh pada tanggal 14 Februari dan dilambangkan dengan “Sepasang burung jantan dan betina”.
Dalam bahasa Perancis Valentine mempunyai persamaan makna dengan Galentine yang berarti Galant atau cinta, dan di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi 2003 Galant diartikan “Tahu sopan santun dan pandai bergaul”.
Oleh karena Valentine, Galentine, telah dipopulerkan lewat program pembaratan (westernisasi) atau karena gelombang globalisasi dan informasi tak dapat dibendung lagi, maka hari Velentine merebak kemana-mana dan masuk “ke rumah-rumah” orang Islam lewat “pintu”, “jendela” bahkan lewat “lobang angin” sekalipun, sehingga Valentine bergeser jauh dari makna dan pengertiannya, dari upacara keagamaan menjadi hari persaudaraan, kasih sayang, tukar menukar hadiah dan sebagainya.
Jika kita melihat kepada asal usulnya sejak 1700 tahun yang lalu, nampak jelas trik-trik untuk merusak aqidah muslim dan muslimah pun turut bergeser, dari animisme, (mempercayai benda dan mengkeramatkannya), menjadi cara hedonisme (menjadikan kelezatan sebagai standard kebaikan), yaitu dengan cara menampilkan dan memperkenalkan gaya hidup Barat, dengan kedok percintaan, kasih sayang dan lain-lain.
Islam agama yang konsisten tidak ikut-ikutan, meniru-niru keyakinan dan gaya hidup Barat bukan bagian dari ajaran Islam, meskipun berkedok kebaikan dan kasih sayang, karena Islam telah mengatur cara-cara untuk menanam kebaikan dan menyediakan fasilitasnya (wasilah). Rasul Saw. bersabda : Siapa-siapa yang dikehendaki oleh Allah untuk mendapat suatu kebaikan, Allah berikan kepadanya kepahaman tentang agama Islam. (Al-Hadis). Ajaran kasih sayang yang diikuti lewat memperingati Valentine Day bukanlah ajaran Islam, Rasul Saw. melarang untuk meniru-niru cara agama lain : Siapa-siapa yang meniru atau mengikuti suatu kaum (agama) dia termasuk kaum (agama) itu.
Bukan berarti Islam tidak mengajarkan kasih sayang, malah Islam-lah agama yang paling konsisten menebarkan kasih sayang di permukaan bumi ini, sampai-sampai setiap langkah, perbuatan yang dimulai dianjurkan membaca Bismillâhirrahmânirrahîm (dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang).
Rasul Saw. juga bersabda : Tidak beriman salah seorang diantara kamu sehingga ia cinta kepada saudaranya seperti cinta kepada dirinya sendiri. Dalam konteks yang sama tapi lebih luas lagi Rasul Saw. memerintahkan untuk menyayangi makhluk di permukaan bumi ini tanpa membedakan agamanya. Beliau besabda : Sayangilah olehmu penduduk bumi, kamu akan disayangi oleh penduduk langit.
Ketika seorang wanita datang kepada Nabi Saw. melaporkan halnya bahwa ibunya belum menganut agama Islam, apakah dibolehkan dia hidup satu rumah dengan ibunya yang tidak bergama Islam tersebut. Rasul Saw. terdiam, tiba-tiba turun ayat Alquran memberi jawaban terhadap persoalan perempuan tersebut : Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangi karena agama, dan tidak pula mengusirmu dari negerimu, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangi kamu karena agamamu dan mengusirmu dari negerimu dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan maka mereka itulah orang-orang yang zalim. (QS. Al Mumtahanah : 8-9)
Jadi, cukup jelas bahwa agama Islam adalah agama kasih sayang dan menganjurkan untuk berkasih sayang, bahkan lebih sekedar itu, Nabi Muhammad Saw. diberi nama “Rauf” dan “Rahim” (amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin). Allah Swt. berfirman : Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. (QS. At-Taubah : 128)
Tapi, kasih sayang yang dimaksud oleh Islam adalah kasih sayang yang berada dalam koridor Islam, dan mengikuti cara-cara yang dibuat oleh Nabi Saw, yaitu dibungkus dengan iman, bukan kasih sayang yang dibingkai dengan syahwat dan nafsu. Kasih sayang yang permanen bukan kasih sayang satu jam untuk sehari, dan sehari untuk satu tahun.
Velentine Day yang dirayakan oleh orang-orang Barat dan orang-orang “kebarat-baratan” tersebut bukan kasih sayang itu, yang dimaksud oleh syariat Islam, Velentine Day pada hakikatnya adalah upacara keagamaan non muslim, yang telah bergeser menjadi hari persaudaraan dan kasih sayang yang pada akhirnya menjadi suatu modus untuk merusak akidah umat Islam, dan upaya untuk pembaratan (westernisasi), maka Islam dengan mengatas namakan kasih sayang kepada pemeluknya mengharamkan perayaan Velentine Day. Wallahua’lam

Dikirim pada 13 Februari 2012 di Uncategories


Salah satu rukun Iman yang wajib diyakini adalah beriman kepada Rasul-rasul dan Nabi-nabi yang diutus oleh Allah SWT, kepermukaan bumi ini, tanpa membedakan antara satu dengan yang lain.
“La nufarriqu baina ahadimminrusulli” tidak kami bedakan antara mereka(QS.Al-Baqarah:285)
Dari sekian banyak Nabi dan Rasul yang disebutkan di dalam Al-Qur’an, dan yang tidak disebutkan(QS.Annisa:64), termasuk Nabi Isa as yang diistimewakan oleh Allah sebagai salah seorang Nabi Ulul Azmi, Nabi yang mempunyai kemauan yang kuat dan keteguhan hati, dan keistimewaannya tidak sampai menjadi keluarga Tuhan(anak Tuhan), sebagaimana diyakini oleh.sebahagian penganutnya-dia hanya seorang hamba Allah dari keluarga Imran, yang dijadikan Allah sebagai contoh bagi Bani Israil (QS.Azzuhruf:59).
Nama kecil Nabi Isa as diambil dari bahasa Aramea,Yesyu’a dalam bahasa arab disebut Isa, sebagaiman disebutkan dalam Al-qur’an:
“Sesungguhnya Al-Masih,Isa putra Maryam itu adalah utusan Allah(QS.Annisa:171)” dan Al-quran tidak pernah menyebut tanggal kelahirannya,yang disebut dengan hari Natal( hari kelahiran) dan umat Kristiani menetapkan tanggal kelahirannya sejak abad ke-4 pada 25 Desember di Bethlehem(Bait-al-lahm), sebuah kota kecil yang terdapat di Palestina(Ensklopedia Hukum Islam 3:738)
Asal usul Nabi Isa as dijelaskan didalam Al-quran secara panjang lebar, mulai dari ayat 16 –hingga ayat 32 surat Maryam. Beliau adalah putra seorang wanita shaleha-Maryam binti Imran yang diserahkan kepada pengasuhannya kepada Nabi Zakaria(QS.Ali Imran:36-37) untuk menunaikan nazar Ibunya jika dikaruniakan seorang anak laki-laki, akan diserahkan kepada Allah untuk diperhambakan di Baitul Maqdis. Ternyata yang lahir adalah seorang seorang perempuan, maka dengan kebulatan tekad, Maryam tetap diserahkan ke Baitul Maqdis. Setelah Maryam binti Imran mencapai usia dewasa Malaikat Jibril mendatanginya dan memberi tahu bahwa dia telah hamil/mengandung atas izin Allah SWT. Maryam sangat terkejut mendengar berita itu karena dia tidak pernah disentuh oleh seorang laki-laki dan tidak pula pernah dinikahi oleh laki-laki manapun, dia berkata: “Ya Tuhanku bagaimana jalannya aku memperoleh seorang anak, padahal aku belum pernah disentuh oleh seorang manusia/laik-laki”(QS.Ali Imran:47). Ketika sampai masa kelahirannya Maryam membawa kandungannya kesebuah pohon kurma yang sedang berbuah, dan ditempat itulah beliau melahirkan bayinya bernama Isa As(QS.Maryam:23). Dapat dibayangkan betapa sulitnya untuk meyakinkan orang banyak bahwa Maryam adalah wanita suci dan terlepas dari hubungan gelap dengan laki-laki, apalagi Maryam tidak dibesarkan di lingkungan keluarga, dia dibesarkan di Mesjid. Namun ada satu hal yang dapat membela kesucian Maryam dari tuduhan-tuduhan yang tidak melepaskan dirinya,Maryam berasal dari keluarga yang sholeh, mereka berkata “ wahai Maryam Ayahmu bukanlah seorang yang buruk moralnya, dan Ibumu bukan pula seornag penzina
(QS. Maryam:28)”
Lalu mengapa hal ini bisa terjadi ? Maryam tidak dapat berbicara apa-apa, karena jika dia memberikan jawaban terhadap tuduhan yang dilontarkan kepadanya, jawabannya tidak akan dapat meyakinkan orang banyak, karena peristiwa ini terjadi diluar jangkauan akal manusia. Maryam hanya memberi isyarat menunjuk kepada bayi yang sedang digendongnya, lalu bayi itu berkata : “ Sesungguhnya aku adalah hamba Alalh, Dia memberi kitab (Injil) dan dia menjadikan aku seorang Nabi, dan Dia(Allah) menjadikan aku seorang yang diberkahi dimana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepada umat untuk melaksanakan shalat, menunaikan zakat selama aku masih hidup, dan berbakti kepada Ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka, dan “Selamatlah”( Kesejateraanlah) atas hari kelahiranku, hari aku wafat, dan hari aku berbangkit.(QS.Maryam:28-33)”
Ucapan selamat atas kelahiran Nabi Isa yang dituturkannya ketika beliau masih dalam ayunan, di tafsirkan oleh Fakhruddin Arrazy (W.1209M), didalam tafsir Mafatih Alghaib, adalah Selamat dari tuduhan orang-orang pada zamannya bahwa dia bukan seorang bayi dari hubungan gelap atau zina, Hamka didalam tafsir Azharnya mengatakan Selamat, ketika lahir dari tuduhan anak haram, Selamat ketika di dunia, dan selamat ketika hari berbangkit.
Penulis berpendapat bahwa ucapan Selamat tersebut tidak dapat dipahami baik secara ekplisit maupun secara implist, secara nash atau mafhum, bahwa Al-quran membolehkan atau menganjurkan untuk mengucapkan Selamat hari Natal seperti yang kita pahami sekarnag ini, karena persepsi umat Islam dan umat Kristiani tentang Perayaan natal sedikit telah terjadi perbedaan meskipun ada persamaan, dengan kata lain umat Islam dan Kristiani telah sepakat –untuk tidak sepakat- Aggree to Dissagree. Umat Islam memandang ucapan selamat adalah doa, sama dengan “Assalamualaikum” dan doa adalah ibadah, sedangkan bagi umat Kristiani juga demikian Perayaan Natal bahagian dari ritual keagamaan bahkan keyakinan mereka Adapun perbedaan yang sudah kita sepakati adalah tidak mencampur adukkan antara satu keyakinan dengan keyakinan yang lain, tidak mencampur adukkan antara satu ibadah dengan ibadah yang lain dalam agama yang berbeda. Sebagai contoh, kita sudah sepakat bahwa umat Islam tidak boleh memakai Gereja untuk Sholat Jummat, dan sebaliknya umat Kristiani juga tidak dibenarkan menjadikan Mesjid untuk kumpul kebaktian dan selanjutnya ucapan ibadah, seperti Selamat Natal juga demikian hanya boleh diucapkan kepada sesama penganutnya agar tidak terjadi tumpang tindih dan campur aduk. Didalam Islam dikenal dengan istilah Tasyabuh atau Syubhat, samar-samar dan siapa yang terjebak kedalam Syubhat berarti dia telah melaksnakan yang haram, sebagaimana didalam hadist shahih, dan Tasyabuh dalam akidah mengakibatkan lebih fatal lagi, karena dapat merubah keyakinan seseorang.
Sedemikian sakral dan tegasnya persoalan keyakinan didalam Islam. Dan penulis yakin, bahwa menjaga keyakinan masing-masing tidak akan mengganggu kerukunan umat beragama, berikut jika perayaan natal di posisikan pada persoalan ibadah dan keyakinan dapat dipastikan tidak akan mengusik kerukunan beragama dinegeri yang tercinta ini, karena Negara telah menjamin bagi rakyatnya untuk melaksanakandan menganut keyakinan masing-masing sesuai dengan firman Allah SWT. Lakum Dinukum Waliadin; bagimu agamamu dan bagiku agamaku(QS.Al-Kafirun:6)

Dikirim pada 20 Desember 2011 di Uncategories


Rasul Saw bersabda: Apabila kamu melihat gerhana bulan, maka segeralah melaksanakan shalat. (HR. Muslim)
Pada tanggal 10 Desember 2011 M yang lalu telah terjadi gerhana bulan total pada jam 9 malam, berdurasi ± 30 menit di Sumatera Utara khususnya, dan seluruh wilayah Indonesia umumnya. Dan dapat disaksikan langsung dengan mata kepala, karena langit sangat cerah tanpa halangan awan sedikitpun.
Fenomena ini disambut dengan berbagai reaksi oleh masyarakat. Ada yang memandang biasa-biasa saja, ada yang mengambil fotonya untuk diabadikan, mungkin ada yang tidak mengetahui kejadian ini sama sekali, dan sikap yang sebenarnya dianjurkan oleh Nabi Muhammad Saw adalah melaksanakan shalat khusuf (shalat gerhana bulan), sebagaimana dikemukakan dalam hadis riwayat Imam Muslim di atas.
Pada masa Rasul Saw pernah terjadi gerhana matahari atau bulan, lalu masyarakat ketika itu menghubungkan peristiwa itu dengan wafatnya anak Nabi Saw yaitu Ibrahim, maka Rasul Saw bersabda untuk membantah anggapan tersebut: Ketahuilah bahwa matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda kebesaran Allah Swt, terjadi gerhana bukan karena kematian atau lahirnya seseorang, maka jika kamu melihat fenomena alam ini, hendaklah kamu memuji Allah, mengagungkan-Nya, dan bertasbih sampai bulan atau matahari terlihat kembali. (Hadis dari Ibnu Mas’ud)
Pakar Astronomi mengatakan, sebab terjadinya gerhana bulan adalah karena posisi bumi berada persis di tengah-tengah antara matahari dan bulan, sehingga menghalangi bias cahaya matahari mencapai bulan, sehingga bulan tidak bercahaya, kadang terjadi secara total, kadang terjadi sebagiannya, sesuai daerah yang tertutup dari sinar matahari.
Dari keterangan ilmiah ini dapat dipahami, betapa besar keagungan dan kebesaran Allah Swt, baru sekedar memposisikan matahari, bumi dan bulan pada satu posisi garis lurus, itu saja sudah cukup untuk menutupi cahaya bulan agar sampai ke bumi atau untuk memantulkan cahaya matahari ke bumi, bagaimana pula kalau ketiga planet ini dibentrokkan oleh Allah Swt, maka berakhirlah kehidupan ini (kiamat). Maha Kuasa Allah Swt yang telah menjalankan berjuta-juta planet secara normal. Allah Swt berfirman: Tidak mungkin bagi matahari mengejar bulan dan mataharipun tidak dapat mendahului siang, masing-masing berada pada garis edarnya. (QS. Yasin: 40)
Ketika bulan dan matahari tidak lagi memberikan cahayanya secara normal, disebabkan terjadi gerhana, atau Dia menghentikan gerakan serta putaran planet bulan, bumi dan matahari, atau mengubah sedikit saja gerakan yang tidak sebagaimana mestinya, dapat dipastikan akan menimbulkan kegelisahan dan mala petaka yang dahsyat bagi manusia, binatang dan tumbuh-tumbuhan dan Allah Maha Kuasa untuk melakukan itu dalam sekejap mata.
Maka untuk menghilangkan kegelisahan itu, Nabi Muhammad Saw menganjurkan untuk melaksanakan shalat gerhana bulan (shalat khusuf) atau gerhana matahari (shalat kusuf) hanya berbeda huruf kh dan k, memohon kepada Allah Swt untuk menghindarkan dari apa-apa yang tidak diinginkan.
Dengan melaksanakan shalat gerhana manusia mengekspresikan kedhaifan (kelemahan) mereka terhadap yang Maha Kuasa, karena tidak dapat berbuat apa-apa. Sebab fenomena itu terjadi semata-mata di dalam wilayah kekuasaan Allah Swt, bukan karena mati atau lahirnya manusia bahkan bukan karena kemaksiatan dan dosa-dosa manusia, akan tetapi semata-mata merupakan satu ayat diantaran ayat-ayat kauniah Allah Swt. Oleh sebab itu, shalat gerhana bukan hanya mengekspresikan kekerdilan dan kehinaan manusia terhadap Tuhannya, tapi ia juga mewujudkan kepedulian terhadap alam semesta.
Wujud kepedulian terhadap alam semesta dan lingkungan tidak hanya dapat diwujudkan dengan melakukan aksi tertentu, memuji dan mengagungkan Sang Penciptanya merupakan pengakuan jujur bahwa alam semesta ini pemiliknya adalah Allah Swt. Dengan demikian akan timbul kepedulian untuk memeliharanya, bukan untuk merusak atau berbuat kerusakan di dalamnya.
Kuat dugaan, bahwa Nabi Muhammad Saw memerintahkan shalat, apabila terjadi gerhana bulan dan matahari, bukan karena kesalahan dan dosa-dosa yang dilakukan manusia, akan tetapi semata-mata tanda kekuasaan Allah, bahwa Dia mampu untuk merobah keadaan dalam waktu sangat cepat, sehingga bulan dan matahari menjalankan fungsinya tidak secara normal. Sekali lagi, semuanya terjadi bukan akibat human eror (kesalahan manusia).
Adapun, jika alam tidak berfungsi normal akibat kesalahan dan dosa yang dilakukan oleh manusia, seperti kemarau panjang, pemanasan global, menipisnya ozon dan lain-lain, maka Nabi Muhammad Saw memerintahkan untuk bertobat dan mengalami kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan.
Oleh sebab itu, terjadi perbedaan antara shalat khusufkusf dengan shalat istisqa’ (shalat minta hujan). Shalat gerhana dianjurkan untuk bertasbih dan berzikir memuji Allah Swt. Sedangkan shalat istisqa’ dianjurkan untuk bertobat bahkan membawa binatang ternak, dan anak-anak yang tidak berdosa untuk mengharap belas kasihan dari Allah Swt, sembari meminta ampunan atas kesalahan-kesalahan yang telah dilakukan oleh tangan-tangan manusia. Allah Swt berfirman: Terjadinya kerusakan di darat dan di lautan disebabkan karena perbuatan manusia, Allah menghendaki supaya mereka merasakan sebagian dari akibat perbuatan mereka agar mereka kembali ke jalan yang benar. (QS. Ar-Rum: 41)
Dengan demikian, kepedulian terhadap alam dan lingkungan dapat diwujudkan dengan dua cara: Pertama, mengekspresikan kekerdilan dan kelemahan kita terhadap yang Maha Pencipta, Pemilik alam semesta yang Maha Kuasa untuk merobah keadaan alam menjadi tidak normal seperti gerhana bulan dan matahari dan lain lain sebagai tanda kekuasaan-Nya,- bukan karena ulah perbuatan manusia-. Dengan demikian akan tumbuh kesadaran untuk memelihara kelestarian alam dan lingkungan. Kedua, mengakui kesalahan dan dosa-dosa,karena yang menyebabkan alam ini berjalan tidak normal, seperti pemanasan global,merambah hutan, merusak lingkungan, dan lain-lain adalah kejahatan tangan manusia itu sendiri Dengan demikian, diharapkan akan tumbuh kesadaran untuk memperbaiki kerusakan alam dan lingkungan.
Kedua hal ini penting karena Allah Swt menciptakan alam semesta ini hanya untuk keperluan kita (manusia). Allah Swt berfirman: Dia-lah (Allah) yang menciptakan segala apa yang ada di bumi untuk keperluan kamu (manusia). (QS. Al-Baqarah: 29). Wallahua’lam bil ash-shawab

Dikirim pada 15 Desember 2011 di Uncategories


Diriwayatkan dari Jabir ra, bahwa pada tahun ke-10 H Nabi Muhammad SAW berangkat mngerjakan haji bersama ribuan sahabat dari Madinah Al Munawarah di perkirakan jumlahnya mencapao 114 ribu orang.
Pelaksanaannya dimulai dengan berihram di Zulhulaifah (Bir Ali Sekarang ini) mencontoh Nabi Muhammad SAW, mulai dari cara berpakaian ihram sampai kepada niat haji yang mereka kerjakan.
Hampir dapat dipastikan bahwa mereka berniat dari Zulhulaifah adalah niat ihram haji karena pada masa itu belum ada contoh dari nabi SAW cara pelaksanaan haji Ifrod, Tammatu` dan Qiron. lagi pula para sahabat Nabi dibimbing ketika untuk melaksankan haji bukan umroh.
Setelah Nabi mUhammad SAW dan para sahabat selesai berpakaian ihram dan melaksanakan sholat 2 rakaat (sunat ihram), kemudian menaiki kendaraannya yang diberi nama Al-Qashwa dan di atas kendaraan Nabi SAW menoleh ke kir dan kekanan seakan-akan memeriksa pasukannya dan langsung mengumandangkankan talbiah (labbaikallahhumma labbaik, labbaikalla syarika lakalabbaik, innal hammda wan ni`ma-ta laka wal mulk la syarikalak), dan ucapan tal biyah ini senantiasa dibaca oleh Nabi Muhammad SAW dalam perjalanan dan diatas kendaraan hingga sampai Mekkah Al Mukarramah setelah menempuh perjalanaan 1 minggu.
Ketika sampai Ka`bah nabi dan para sahabat memberi penghormatan kepada Hajar Al Aswad dengan cara mengecupnya, pertanda thawaf telah di mulai dan Nabi SAW berkeliling sedikit agak cepat (ramal) pada 3 dan 4 putaran terakhirberjalan seperti biasa. setelah selesai thawaf, Nabi Muhammad SAW mengambil posisi antara Ka`bah dan Maqam Ibrahim untuk melaksanakan sholat 2 rakaat (sunat Thawaf) setelah itu Nabi SAW kembali mendakati Ka`bah dan mengecupnya pertanda thawaf telah selesai. Kemudian Nabi dan para sahabat menuju ke Shafa (ketika itu di luar Mesjidil Haram) dan manakala mendekati ke shafa Nabi SAW membaca innasafa wal marwata minsyaairillah da membaca abda`u bima bada ilahu bih
Ketika berada di bukit shafa beliau menghadap Ka`bahsambil membaca takbir dan doa dan langsung memulai sa`i, berjalan dari shafa menuju marwah sehingga tujuh putaran di akhiri di bukit marwah. maka dengan selesainya pekerjaan sa`i para sahabat yang membawa kambing sebagai hady (dam) melakukan tahallul umroh terkecuali Nabi Muhammad SAW tidak melakukan tahallul umroh dan diikuti oleh beberapa sahabatseperti Abu Bakar, Umar, Ali,Thalhah, Zubir danlainnya (Kitab Al Mughni Fi Fikih Haji hal 437)
Dan pada hari tarwiyah semua para sahabat kembali melaksanakan ihram haji dan berniat haji untuk menuju kemina sedangkan Nabi SAW tetap dalam ihramnya karena beliau tidak melaksanakan tahallul umroh dan besoknya Nabi SAW dan para sahabt berangkat menuju Arafah untuk melaksankan wuquf sebagai puncak kegiatan ibadah Haji.
Setelah Wuquf dilaksana Nabi SAW bersama para sahabat sampai terbenam matahari rombongan haji yang di pimpin langsung Nabi Muhammad SAW itu bergerak menuju Muzdalifah. Sesampai di Muzdalifah beliau tidur (mabit) hingga terbit fajar.
Ke esokan hari pada tanggal 10 Zulhijjah Nabi SAW dan para sahabat pergi ke Jumrah Aqabah, melontar 7 butir batu, pertanda Nabi SAW mengakhiri ihram hajinya dengan melaksanakan tahallul. Kemudian Nabi SAW menyembelih Qurban sebanya 63 kali pertanda umurnya sudah 63 tahun.
Setelah melaksanakan Qurban Nabi SAW berangkat ke Makkah untuk melaksankan thawaf haji (ifadah) lalu shalat zuhur di Masjidil Haram. dengan demikian selesai pelaksanaan haji Nabi Muhammad SAW.
Yang jadi pertanyaan besar bagi kita dan bagi siapa saja yang ingin meneliti tata cara pelaksanaan haji Nabi Muhammad SAW adalah bagaimana pelaksanaan menjadi 3 bagian yaitu : IFROD, TAMATTU` dan QIRAN? dan jenis mana dilaksanakan oleh Nabi Muhammad SAW?
Kuat dugaan bahwa ketika Nabi Muhammad SAW memerintahkan tahallul kepada sahabat yang membawa binantang sembelihan setelah selesai tawaf dan sai adalah HAJI TAMATTU` (karena mendahulkan umroh dan haji)
Sedangkan Nbai SAW tidak tahallul melainkan pada tanggal 10 Zulhijjah meskipun beliau membawa 100 ekor unta untuk binatang sembelihan (dan dan kurban) adalah HAJI QIRAN
Sedangkan diantara para sahabat Nabi SAW termasuk istrinya Aisyah diperintahkannya untuk kembali ke Miqat (Tan`im) dalam riwayat yang lain untuk melaksanakan umroh adalah HAJI IFROD
Jadi 3 macam tata cara pelaksanaan haji yang dilaksankan oleh Nabi Muhammad SAW para sahabat terdahulu dan sampai sekarang diiukuti oleh kaum muslimin

Dikirim pada 31 Oktober 2011 di Uncategories
Awal « 1 » Akhir
Profile

“ Haji/Hajjah Windy Sihombing ini masih belum mau dikenal orang, mungkin masih malu. “ More About me

Page
Categories
Statistik
    Blog ini telah dikunjungi sebanyak : 261.010 kali


connect with ABATASA