0


Salah satu rukun Iman yang wajib diyakini adalah beriman kepada Rasul-rasul dan Nabi-nabi yang diutus oleh Allah SWT, kepermukaan bumi ini, tanpa membedakan antara satu dengan yang lain.

“La nufarriqu baina ahadimminrusulli” tidak kami bedakan antara mereka(QS.Al-Baqarah:285)

Dari sekian banyak Nabi dan Rasul yang disebutkan di dalam Al-Qur’an, dan yang tidak disebutkan(QS.Annisa:64), termasuk Nabi Isa as yang diistimewakan oleh Allah sebagai salah seorang Nabi Ulul Azmi, Nabi yang mempunyai kemauan yang kuat dan keteguhan hati, dan keistimewaannya tidak sampai menjadi keluarga Tuhan(anak Tuhan), sebagaimana diyakini oleh.sebahagian penganutnya-dia hanya seorang hamba Allah dari keluarga Imran, yang dijadikan Allah sebagai contoh bagi Bani Israil (QS.Azzuhruf:59).

Nama kecil Nabi Isa as diambil dari bahasa Aramea,Yesyu’a dalam bahasa arab disebut Isa, sebagaiman disebutkan dalam Al-qur’an:

“Sesungguhnya Al-Masih,Isa putra Maryam itu adalah utusan Allah(QS.Annisa:171)” dan Al-quran tidak pernah menyebut tanggal kelahirannya,yang disebut dengan hari Natal( hari kelahiran) dan umat Kristiani menetapkan tanggal kelahirannya sejak abad ke-4 pada 25 Desember di Bethlehem(Bait-al-lahm), sebuah kota kecil yang terdapat di Palestina(Ensklopedia Hukum Islam 3:738)

Asal usul Nabi Isa as dijelaskan didalam Al-quran secara panjang lebar, mulai dari ayat 16 –hingga ayat 32 surat Maryam. Beliau adalah putra seorang wanita shaleha-Maryam binti Imran yang diserahkan kepada pengasuhannya kepada Nabi Zakaria(QS.Ali Imran:36-37) untuk menunaikan nazar Ibunya jika dikaruniakan seorang anak laki-laki, akan diserahkan kepada Allah untuk diperhambakan di Baitul Maqdis. Ternyata yang lahir adalah seorang seorang perempuan, maka dengan kebulatan tekad, Maryam tetap diserahkan ke Baitul Maqdis. Setelah Maryam binti Imran mencapai usia dewasa Malaikat Jibril mendatanginya dan memberi tahu bahwa dia telah hamil/mengandung atas izin Allah SWT. Maryam sangat terkejut mendengar berita itu karena dia tidak pernah disentuh oleh seorang laki-laki dan tidak pula pernah dinikahi oleh laki-laki manapun, dia berkata: “Ya Tuhanku bagaimana jalannya aku memperoleh seorang anak, padahal aku belum pernah disentuh oleh seorang manusia/laik-laki”(QS.Ali Imran:47). Ketika sampai masa kelahirannya Maryam membawa kandungannya kesebuah pohon kurma yang sedang berbuah, dan ditempat itulah beliau melahirkan bayinya bernama Isa As(QS.Maryam:23). Dapat dibayangkan betapa sulitnya untuk meyakinkan orang banyak bahwa Maryam adalah wanita suci dan terlepas dari hubungan gelap dengan laki-laki, apalagi Maryam tidak dibesarkan di lingkungan keluarga, dia dibesarkan di Mesjid. Namun ada satu hal yang dapat membela kesucian Maryam dari tuduhan-tuduhan yang tidak melepaskan dirinya,Maryam berasal dari keluarga yang sholeh, mereka berkata “ wahai Maryam Ayahmu bukanlah seorang yang buruk moralnya, dan Ibumu bukan pula seornag penzina

(QS. Maryam:28)”

Lalu mengapa hal ini bisa terjadi ? Maryam tidak dapat berbicara apa-apa, karena jika dia memberikan jawaban terhadap tuduhan yang dilontarkan kepadanya, jawabannya tidak akan dapat meyakinkan orang banyak, karena peristiwa ini terjadi diluar jangkauan akal manusia. Maryam hanya memberi isyarat menunjuk kepada bayi yang sedang digendongnya, lalu bayi itu berkata : “ Sesungguhnya aku adalah hamba Alalh, Dia memberi kitab (Injil) dan dia menjadikan aku seorang Nabi, dan Dia(Allah) menjadikan aku seorang yang diberkahi dimana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepada umat untuk melaksanakan shalat, menunaikan zakat selama aku masih hidup, dan berbakti kepada Ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka, dan “Selamatlah”( Kesejateraanlah) atas hari kelahiranku, hari aku wafat, dan hari aku berbangkit.(QS.Maryam:28-33)”

Ucapan selamat atas kelahiran Nabi Isa yang dituturkannya ketika beliau masih dalam ayunan, di tafsirkan oleh Fakhruddin Arrazy (W.1209M), didalam tafsir Mafatih Alghaib, adalah Selamat dari tuduhan orang-orang pada zamannya bahwa dia bukan seorang bayi dari hubungan gelap atau zina, Hamka didalam tafsir Azharnya mengatakan Selamat, ketika lahir dari tuduhan anak haram, Selamat ketika di dunia, dan selamat ketika hari berbangkit.

Penulis berpendapat bahwa ucapan Selamat tersebut tidak dapat dipahami baik secara ekplisit maupun secara implist, secara nash atau mafhum, bahwa Al-quran membolehkan atau menganjurkan untuk mengucapkan Selamat hari Natal seperti yang kita pahami sekarnag ini, karena persepsi umat Islam dan umat Kristiani tentang Perayaan natal sedikit telah terjadi perbedaan meskipun ada persamaan, dengan kata lain umat Islam dan Kristiani telah sepakat –untuk tidak sepakat- Aggree to Dissagree. Umat Islam memandang ucapan selamat adalah doa, sama dengan “Assalamualaikum” dan doa adalah ibadah, sedangkan bagi umat Kristiani juga demikian Perayaan Natal bahagian dari ritual keagamaan bahkan keyakinan mereka Adapun perbedaan yang sudah kita sepakati adalah tidak mencampur adukkan antara satu keyakinan dengan keyakinan yang lain, tidak mencampur adukkan antara satu ibadah dengan ibadah yang lain dalam agama yang berbeda. Sebagai contoh, kita sudah sepakat bahwa umat Islam tidak boleh memakai Gereja untuk Sholat Jummat, dan sebaliknya umat Kristiani juga tidak dibenarkan menjadikan Mesjid untuk kumpul kebaktian dan selanjutnya ucapan ibadah, seperti Selamat Natal juga demikian hanya boleh diucapkan kepada sesama penganutnya agar tidak terjadi tumpang tindih dan campur aduk. Didalam Islam dikenal dengan istilah Tasyabuh atau Syubhat, samar-samar dan siapa yang terjebak kedalam Syubhat berarti dia telah melaksnakan yang haram, sebagaimana didalam hadist shahih, dan Tasyabuh dalam akidah mengakibatkan lebih fatal lagi, karena dapat merubah keyakinan seseorang.

Sedemikian sakral dan tegasnya persoalan keyakinan didalam Islam. Dan penulis yakin, bahwa menjaga keyakinan masing-masing tidak akan mengganggu kerukunan umat beragama, berikut jika perayaan natal di posisikan pada persoalan ibadah dan keyakinan dapat dipastikan tidak akan mengusik kerukunan beragama dinegeri yang tercinta ini, karena Negara telah menjamin bagi rakyatnya untuk melaksanakandan menganut keyakinan masing-masing sesuai dengan firman Allah SWT. Lakum Dinukum Waliadin; bagimu agamamu dan bagiku agamaku(QS.Al-Kafirun:6)

Dikirim pada 20 Desember 2011 di Uncategories


Rasul Saw bersabda: Apabila kamu melihat gerhana bulan, maka segeralah melaksanakan shalat. (HR. Muslim)

Pada tanggal 10 Desember 2011 M yang lalu telah terjadi gerhana bulan total pada jam 9 malam, berdurasi ± 30 menit di Sumatera Utara khususnya, dan seluruh wilayah Indonesia umumnya. Dan dapat disaksikan langsung dengan mata kepala, karena langit sangat cerah tanpa halangan awan sedikitpun.

Fenomena ini disambut dengan berbagai reaksi oleh masyarakat. Ada yang memandang biasa-biasa saja, ada yang mengambil fotonya untuk diabadikan, mungkin ada yang tidak mengetahui kejadian ini sama sekali, dan sikap yang sebenarnya dianjurkan oleh Nabi Muhammad Saw adalah melaksanakan shalat khusuf (shalat gerhana bulan), sebagaimana dikemukakan dalam hadis riwayat Imam Muslim di atas.

Pada masa Rasul Saw pernah terjadi gerhana matahari atau bulan, lalu masyarakat ketika itu menghubungkan peristiwa itu dengan wafatnya anak Nabi Saw yaitu Ibrahim, maka Rasul Saw bersabda untuk membantah anggapan tersebut: Ketahuilah bahwa matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda kebesaran Allah Swt, terjadi gerhana bukan karena kematian atau lahirnya seseorang, maka jika kamu melihat fenomena alam ini, hendaklah kamu memuji Allah, mengagungkan-Nya, dan bertasbih sampai bulan atau matahari terlihat kembali. (Hadis dari Ibnu Mas’ud)

Pakar Astronomi mengatakan, sebab terjadinya gerhana bulan adalah karena posisi bumi berada persis di tengah-tengah antara matahari dan bulan, sehingga menghalangi bias cahaya matahari mencapai bulan, sehingga bulan tidak bercahaya, kadang terjadi secara total, kadang terjadi sebagiannya, sesuai daerah yang tertutup dari sinar matahari.

Dari keterangan ilmiah ini dapat dipahami, betapa besar keagungan dan kebesaran Allah Swt, baru sekedar memposisikan matahari, bumi dan bulan pada satu posisi garis lurus, itu saja sudah cukup untuk menutupi cahaya bulan agar sampai ke bumi atau untuk memantulkan cahaya matahari ke bumi, bagaimana pula kalau ketiga planet ini dibentrokkan oleh Allah Swt, maka berakhirlah kehidupan ini (kiamat). Maha Kuasa Allah Swt yang telah menjalankan berjuta-juta planet secara normal. Allah Swt berfirman: Tidak mungkin bagi matahari mengejar bulan dan mataharipun tidak dapat mendahului siang, masing-masing berada pada garis edarnya. (QS. Yasin: 40)

Ketika bulan dan matahari tidak lagi memberikan cahayanya secara normal, disebabkan terjadi gerhana, atau Dia menghentikan gerakan serta putaran planet bulan, bumi dan matahari, atau mengubah sedikit saja gerakan yang tidak sebagaimana mestinya, dapat dipastikan akan menimbulkan kegelisahan dan mala petaka yang dahsyat bagi manusia, binatang dan tumbuh-tumbuhan dan Allah Maha Kuasa untuk melakukan itu dalam sekejap mata.

Maka untuk menghilangkan kegelisahan itu, Nabi Muhammad Saw menganjurkan untuk melaksanakan shalat gerhana bulan (shalat khusuf) atau gerhana matahari (shalat kusuf) hanya berbeda huruf kh dan k, memohon kepada Allah Swt untuk menghindarkan dari apa-apa yang tidak diinginkan.

Dengan melaksanakan shalat gerhana manusia mengekspresikan kedhaifan (kelemahan) mereka terhadap yang Maha Kuasa, karena tidak dapat berbuat apa-apa. Sebab fenomena itu terjadi semata-mata di dalam wilayah kekuasaan Allah Swt, bukan karena mati atau lahirnya manusia bahkan bukan karena kemaksiatan dan dosa-dosa manusia, akan tetapi semata-mata merupakan satu ayat diantaran ayat-ayat kauniah Allah Swt. Oleh sebab itu, shalat gerhana bukan hanya mengekspresikan kekerdilan dan kehinaan manusia terhadap Tuhannya, tapi ia juga mewujudkan kepedulian terhadap alam semesta.

Wujud kepedulian terhadap alam semesta dan lingkungan tidak hanya dapat diwujudkan dengan melakukan aksi tertentu, memuji dan mengagungkan Sang Penciptanya merupakan pengakuan jujur bahwa alam semesta ini pemiliknya adalah Allah Swt. Dengan demikian akan timbul kepedulian untuk memeliharanya, bukan untuk merusak atau berbuat kerusakan di dalamnya.

Kuat dugaan, bahwa Nabi Muhammad Saw memerintahkan shalat, apabila terjadi gerhana bulan dan matahari, bukan karena kesalahan dan dosa-dosa yang dilakukan manusia, akan tetapi semata-mata tanda kekuasaan Allah, bahwa Dia mampu untuk merobah keadaan dalam waktu sangat cepat, sehingga bulan dan matahari menjalankan fungsinya tidak secara normal. Sekali lagi, semuanya terjadi bukan akibat human eror (kesalahan manusia).

Adapun, jika alam tidak berfungsi normal akibat kesalahan dan dosa yang dilakukan oleh manusia, seperti kemarau panjang, pemanasan global, menipisnya ozon dan lain-lain, maka Nabi Muhammad Saw memerintahkan untuk bertobat dan mengalami kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan.

Oleh sebab itu, terjadi perbedaan antara shalat khusufkusf dengan shalat istisqa’ (shalat minta hujan). Shalat gerhana dianjurkan untuk bertasbih dan berzikir memuji Allah Swt. Sedangkan shalat istisqa’ dianjurkan untuk bertobat bahkan membawa binatang ternak, dan anak-anak yang tidak berdosa untuk mengharap belas kasihan dari Allah Swt, sembari meminta ampunan atas kesalahan-kesalahan yang telah dilakukan oleh tangan-tangan manusia. Allah Swt berfirman: Terjadinya kerusakan di darat dan di lautan disebabkan karena perbuatan manusia, Allah menghendaki supaya mereka merasakan sebagian dari akibat perbuatan mereka agar mereka kembali ke jalan yang benar. (QS. Ar-Rum: 41)

Dengan demikian, kepedulian terhadap alam dan lingkungan dapat diwujudkan dengan dua cara: Pertama, mengekspresikan kekerdilan dan kelemahan kita terhadap yang Maha Pencipta, Pemilik alam semesta yang Maha Kuasa untuk merobah keadaan alam menjadi tidak normal seperti gerhana bulan dan matahari dan lain lain sebagai tanda kekuasaan-Nya,- bukan karena ulah perbuatan manusia-. Dengan demikian akan tumbuh kesadaran untuk memelihara kelestarian alam dan lingkungan. Kedua, mengakui kesalahan dan dosa-dosa,karena yang menyebabkan alam ini berjalan tidak normal, seperti pemanasan global,merambah hutan, merusak lingkungan, dan lain-lain adalah kejahatan tangan manusia itu sendiri Dengan demikian, diharapkan akan tumbuh kesadaran untuk memperbaiki kerusakan alam dan lingkungan.

Kedua hal ini penting karena Allah Swt menciptakan alam semesta ini hanya untuk keperluan kita (manusia). Allah Swt berfirman: Dia-lah (Allah) yang menciptakan segala apa yang ada di bumi untuk keperluan kamu (manusia). (QS. Al-Baqarah: 29). Wallahua’lam bil ash-shawab

Dikirim pada 15 Desember 2011 di Uncategories
Awal « 1 » Akhir
Profile

“ Haji/Hajjah Windy Sihombing ini masih belum mau dikenal orang, mungkin masih malu. “ More About me

Page
Categories
Statistik
    Blog ini telah dikunjungi sebanyak : 263.508 kali


connect with ABATASA