0


Doa berbuka puasa yang sudah populer dibaca oleh kaum muslimin ingin mengulas keabsahan hadis doa berbuka Allāhumma lakaumtu…dst, yang disebut-sebut sanadnya lemah (menurut Ibnu Hajar Al-Asqolani) dan malah ada yang bilang palsu (menurut Mullah Al-Qani)”.

Nabi Muhammad Saw apabila berbuka puasa membaca “Allāhumma lakaumtu wa ‘ala rizqika afṭartu” (Hadis Riwayat Abu Daud dari Mu’az bin Zahrah). Terjemahan dari hadis di atas adalah: Ya Allah karena Mu aku berpuasa dan atas rezeki Mu aku berbuka, tanpa ada penambahan “wabika āmantu dan birahmatika yā arhamarrāhimīn”.

Setelah ditelusuri sumber asli dari hadis, ditemukan di dalam kitab ‘Aunul Ma’bud Syarah Sunan Abi Daud dalam bab “Ucapan ketika berbuka/ Bab Al-Qaul ‘indal ifṭar” no.22 hadis no.2355, cetakan Daarul Hadis tahun 2001, menjelaskan bahwa Nabi Muhammad Saw apabila berbuka puasa membaca doa singkat seperti teks hadis di atas, dan ibnu Al-Malik mengatakan doa ini dibaca sejenak setelah berbuka puasa.

Mata rantai periwayat hadis di atas terdiri dari 5 orang, yaitu Imam Abu Daud dari Musaddad dari Husyaim dari Huṣain (dengan huruf shad) dari Muaz bin Zuhrah “menghubungkan langsung” lafaz doa berbuka puasa yang populer dibaca oleh para ulama Indonesia bahkan oleh umat Islam di dunia ini, kepada Nabi Muhammad Saw.

Yang menarik dalam kajian hadis ini adalah, ternyata hadis yang sudah dihafal mati oleh hampir seluruh kaum muslimin yang menjalankan ibadah puasa mulai dari tingkat anak-anak sampai orang-orang dewasa bahkan ustaz-ustaz dan para ulama, adalah hadis mursal, yaitu hadis yang terputus periwayatnya, yaitu antara Muaz bin Zuhrah dengan Nabi Muhammad Saw ada seorang sahabat yang tidak disebut dalam mata rantai riwayat hadis tersebut, karena perkataan Muaz bin Zahrah “mendapat informasi” dari Nabi Saw, sebenarnya melalui perantara, sayangnya perantara itu tidak disebut di dalam rangkai periwayat, maka sanad hadis ini dikatakan musral.

Dengan kata lain, Muaz bin Abi Zahrah tidak pernah bertemu langsung dengan Nabi Muhammad Saw, karena beliau adalah seorang generasi pertengahan dari tabi’in (tanpa tahun wafatnya). Sedangkan periwayat yang di bawah tingkatannya adalah Huṣain bin Abd Rahman (wafat 136 H) adalah generasi kecil (yunior) tabi’in, dan periwayat berikutnya lagi Husyain bin Basyir (wafat 183 H) dan periwayat berikut adalah Musaddad bin Musarhad (wafat 228 M) dan sampai kepada Abu Daud Al-Sajastani (wafat 275 M). Matan hadis populer ini terdapat dalam karya monumentalnya “Sunan Abi Daud” yang memuat 4800 hadis, tergolong kepada kitab induk (ummahat). Dan perlu digaris bawahi, hanya Imam Abu Daud satu-satunya yang mencantumkan doa berbuka puasa ini, tidak terdapat pada kitab-kitab induk yang lain, seperti Sunan An-Nasai, Turmuzi, apalagi Ṣahih Bukhari dan Ṣahih Muslim, dan lain-lain.

Hasil penelusuran dari mata rantai (sanad) periwayat hadis berbuka puasa ini menyimpulkan bahwa hadis ini tidak tergolong kepada hadis ṣahih, karena hadis ṣahih seperti yang didefenisikan oleh Imam Nawawi dan Ibnu Ṣalah adalah: hadis yang mata rantai (sanad)nya tidak terputus diriwayatkan oleh perawi yang adil (dapat dipercaya, bagus akhlaknya, istiqamah dalam agamanya, lagi kuat ingatannya tanpa ada keganjilan dan cacat moral).

Dengan demikian, hadis tentang berbuka puasa yang telah diamalkan dan dibaca menjelang berbuka puasa atau setelah berbuka puasa, digolongkan kepada hadis aif, dan jika ada hadis ṣahih yang dibaca ketika berbuka puasa sebaiknya lebih diprioritaskan dari pada hadis ini.

Imam Nawawi di dalam kitab “Majmu’ Syarah Muhazzab Abi Ishaq AsySyairazi” menjadikan hadis di atas sebagai landasan hukum, bahwa sunat bagi orang-orang yang berpuasa untuk membaca doa tersebut ketika berbuka, dengan teks “Allāhumma lakaṣumtu wa ‘ala rizqika afṭartu” tidak seperti apa yang biasa kita baca “Allāhumma lakaṣumtu wabika āmantu wa ‘ala rizqika afṭartu birahmatika yā arhamarrāhimīn”, ada penambahan “wabika āmantu”, menurut Imam Nawawi hadis ini diriwayatkan dari Abi Hurairah (tanpa menyebutkan sumbernya), sedangkan di dalam kitab Sunan Abi Daud diriwayatkan dari Muaz bin Abi Zahrah dan dari Ibnu Umar dari kitab Sunan An-Nasai, namun Imam Nawawi tetap mengatakan bahwa hadis ini adalah garib (yang diriwayatkan oleh perorangan) yang dikelompokkan kepada hadis ḍaif, dan juga hadis mursal.

Setelah penulis menelusuri, ternyata tidak disebutkan Abi Hurairah sebagai periwayat yang bertemu langsung dengan Nabi Muhammad Saw. Diduga kuat mursal yang dimaksud oleh Imam Nawawi bukan mursal sahabat, boleh jadi mursal tabi’in, atau boleh jadi juga diriwayatkan oleh Abu Hurairah di dalam kitab selain dari Kutubussittah (kitab induk yang enam, Ṣahih Bukhari, Muslim, Abu Daud, An-Nasai, Turmuzi, Ibnu Majah).

Namun yang menjadi pertanyaan serius bagi kita, mengapa Imam Nawawi mengambil hadis di atas sebagai amalan untuk dibaca ketika berbuka puasa, sementara ada hadis yang kualitasnya lebih ṣahih dari hadis ini, seperti hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar: Adalah Nabi Muhammad Saw apabila berbuka puasa membaca “zahabazzomah, wabtallat al-‘uruqu, waṡṡabatal ajru insya Allah” (telah hilang dahaga, telah basah urat-urat leher, dan semoga berbuah pahala insya Allah). Dan kualitas hadis ini lebih baik dari hadis mursal.

Menurut penulis ada beberapa pertimbangan Imam Nawawi menjadikan hadis mursal di atas sebagai bacaan untuk berbuka puasa.

Pertama, hadis musal di atas meskipun digolongkan kepada hadis ḍaif, akan tetapi dapat dijadikan hujjah (alasan) untuk faḍail ‘amal (amalan-amalan anjuran). Kedua, mursal yang terjadi di dalam hadis ini adalah mursal sahabat, yaitu seorang periwayat pada level sahabat tidak disebutkan dalam mata rantai (sanad) hadis dan para sahabat telah dijamin keakurasian. Ketiga, keḍaifan hadis di atas dapat dibantu dengan riwayat-riwayat yang lain, seperti riwayat dari Abi Hurairah dan Ibnu Umar.

Kesimpulan penulis, terhadap takhrij hadis yang sederhana ini, kedua hadis doa berbuka puasa di atas dapat diamalkan, hanya saja pengamalannya dikondisikan. Jika berpuasa dengan air minum, maka bacalah doa “zahabazzomah, wabtallat al-‘uruqu, waṡṡabatal afru insya Allah/ telah hilang dahaga, telah basah urat-urat leher, dan semoga berbuah pahala insya Allah. Dan jika berbuka puasa dengan kurma atau buah-buahan dan makanan, bacalah doa: Allāhumma lakaṣumtu wa ‘ala rizqika afṭartu/ ya Allah karena Mu aku puasa, dan atas rezeki dan pemberian Mu aku berbuka.

Dan menurut konteks ke Indonesiaan biasanya kita berbuka dengan air minum, baru menyusul buah-buahan dan makanan, maka sebaiknya membaca do’a yang pertama. Wallahua’lam bil ash-shawab

Dikirim pada 26 Juli 2012 di Uncategories


Nusyuz secara kebahasaan diartikan “tempat yang tinggi”, yaitu sikap ketidakpatuhan yang muncul dari isteri ataupun suami. Dalam kitab Lisanul Arab – Ibnu Manzur (630 H) mendefenisikan nusyuz adalah “rasa kebencian salah satu pihak (suami atau isteri) terhadap pasangannya”. Sedangkan Fikih Islam Waadillatuhu – Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaily – guru besar Fikih dan Usul Fikih Universitas Damaskus – Siria, mengartikan nusyuz adalah “ketidakpatuhan salah satu pasangan terhadap apa yang seharusnya dipatuhi dan/atau rasa benci terhadap pasangannya”. Dengan kata lain, nusyuz berarti tidak taatnya suami/isteri kepada aturan-aturan yang telah diikat oleh perjanjian yang telah terjalin dengan sebab ikatan perkawinan, tanpa alasan yang dibenarkan oleh syara’.

Dengan demikian, ketidakpatuhan, kedurhakaan, pembangkangan terhadap sesuatu yang memang tidak wajib untuk dipatuhi, seperti suami menyuruh isteri untuk berbuat maksiat kepada Allah Swt, atau isteri menuntut sesuatu di luar kemampuannya, maka sikap ini tidak dapat dikategorikan kepada nusyuz – karena Nabi Saw bersabda: Tidak ada kepatuhan kepada makhluk untuk ma’siat kepada khaliq (Allah Swt).

Nusyuz bisa terjadi dari pihak isteri, sebagai dasar hukumnya adalah firman Allah Swt: Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuz­nya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka dan jika mereka mentaatimu maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya, sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar (QS. an-Nisa’: 34).

Adapun dasar hukum nusyuz dari pihak suami terhadap isteri adalah firman Allah Swt: Dan jika seorang wanita khawatir akan nusyuz atau sikap tidak acuh dari suaminya, maka tidak mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya, dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka) walaupun manusia itu menurut tabiatnya kikir, dan jika kamu bergaul dengan isterimu secara baik dan memelihara dirimu (dari nusyuz dan sikap tak acuh), maka sesungguhnya Allah adalah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan (QS. an-Nisa’: 128).

Jika nusyuz terjadi secara bersamaan dari kedua belah pihak (isteri dan suami), maka tidak dikategorikan kepada nusyuz, akan tetapi dikategorikan kepada syiqaq yang berarti perselisihan dan percekcokan, permusuhan yang berkepanjangan dan meruncing antara suami dan isteri, maka penyelesaian yang dilakukan untuk mengatasi kemelut yang berkepanjangan tersebut adalah dengan mengangkat hakim (penengah atau juru damai) guna mencari akar permasalahan dan juru damai yang dimaksud dapat diangkat dari pihak suami dan isteri atau dari pihak luar keluarga selama tujuan damai dapat dicapai, dan dasar hukum syiqaq ini terdapat di dalam surat an-Nisa’ ayat 35.

Maka jika tujuan damai tidak tercapai, para ulama Fikih berbeda pendapat tentang kebolehan menjatuhkan talak (cerai) karena semata-mata pertimbangan syiqaq. Mazhab Hanafi, tidak membolehkan menceraikan isteri karena alasan syiqaq, karena masih dapat diselesaikan lewat pengadilan untuk diberi nasehat oleh haki agar suami/isteri tidak lagi mengulangi sikapnya yang dapat menimbulkan perselisihan yang baru. Mazhab Maliki, membolehkan terjadinya perceraian atas pertimbangan syiqaq, karena syiqaq menimbulkan mudarat dalam rumah tangga dan mudarat dapat dihilangkan melalui perceraian lewat pengadilan atau wewenang suami.

Sedangkan Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaily berpendapat, pasangan suami/isteri yang berseteru berkepanjangan (syiqaq) tidak selamanya dapat diselesaikan tanpa perceraian, maka pengadilan dapat memutuskan untuk terjadinya perceraian dan putusan hakim terhadap perceraian akibat syiqaq, talaq yang dijatuhkan berstatus ba’in sughra, yakni suami bisa kembali kepada bekas isterinya dengan akan nikah yang baru (lihat Fikih Islam Waadillatuhu Juz: 7 hal.529).

Kembali kepada persoalan nisyuz. Nusyuz dapat terjadi dalam bentuk perkataan dan tindakan. Nusyuz perkataan dapat terjadi jika seorang isteri tidak berbicara sopan kepada suaminya, seperti memaki-maki suaminya, atau menjawab secara tidak sopan terhadap pembicaraan suaminya yang bersikap santun kepadanya. Sedangkan nusyuz dalam perkataan bagi pihak suami kepada isterinya adalah menghina isterinya, atau membentak-bentak isterinya yang telah menjalankan tugasnya sebagai isteri.

Adapun nusyuz dalam bentuk perbuatan, dari pihak isteri misalnya tidak mau pindah ke rumah yang telah disediakan oleh suaminya, tidak mau melaksanakan apa yang diperintahkan oleh suaminya dalam batas-batas tertentu sebagai tugas seorang isteri, keluar rumah tanpa izin suami, tidak mau melayani suaminya sedangkan dia tidak dalam keadaan uzur atau sakit. Sedangkan nusyuz dari pihak suami adalah mengabaikan hak-hak isterinya atas dirinya, seperti, tidak memberikan nafkah lahir batin pada isteri atau berfoya-foya dengan perempuan lain, atau menganggap sepi atau rendah terhadap isterinya.

Jika seorang isteri mengalami perlakuan nusyuz dari suaminya, maka isteri dapat melakukan dua hal, yakni: Pertama, bersabar terhadap perlakuan suaminya, karena dengan sikap sabar akan dapat menimbulkan kesadaran pada suaminya, jika membalas dengan perlakuan yang sama, maka kedua-duanya akan terjebak kepada nusyuz, dan pada gilirannya akan membawa kepada syiqaq dan syiqaq akan membawa kepada perseteruan yang berkepanjangan. Kedua, isteri dapat melakukan khulu’, yaitu kesediaan untuk membayar uang iwad (uang pengganti) agar suami bersedia untuk menceraikannya.

Sebaliknya, jika suami mengalami perlakuan nusyuz dari pihak isterinya, maka suami dapat melakukan empat hal, yakni: Pertama, memberikan nasehat kepada isteri agar bertaqwa kepada Allah Swt, dan nasehat diawali mengintrospeksi dirinya sendiri karena boleh jadi sikap nusyuz isteri timbul akibat sikap suami sendiri. Kedua, berpisah ranjang dan tidak saling tegur sapa (sebagai lanjutan dari tahapan pertama jika tidak berhasil di nasehati) dan tidak lebih dari tiga hari, berdasarkan Sabda Nabi Saw: Tidak halal bagi seorang muslim untuk tidka bertegur sapa dengan saudaranya lebih dari tiga hari tiga malam ((HR. Abu Daud dan Nasai).

Ketiga, memikulnya dengan tidak sampai mencederai, tidak boleh memukul wajah dan perut, dan dengan alat yang tidak membahayakan. Nabi Saw bersabda: Tidak dibenarkan salah seorang kamu memukul dengan pemukul yang lebih dari sepuluh helai lidi, terkecuali untuk melakukan hal-hal yang ditetapkan (hudud) Allah (HR. al-Bukhari Muslim). Keempat, adalah tahap yang diberikan untuk menyelesaikan syiqaq, yaitu mencari juru damai, hingga sampai ke pengadilan untuk melakukan perceraian.

Adapun konsekuensi hukum akibat nusyuz isteri terhadap suaminya adalah gugur kewajiban suami memberi nafkah kepada isteri nusyuz selama dalam nusyuznya, dan apabila suaminya meninggal dunia, isteri tidak mendapat warisan, terkecuali harta pembawaan sebelum terjadi akad nikah. Apabila jika seorang isteri murtad (na’uzubillāh), maka terputuslah hak untuk mendapat warisan, dan jika ada harta pembawaannya, tidak diwarisi tapi diserahkan kepada Baitul Mal (lihat Fikih Islam Waadillatuhu Juz 8 hal.408). alasan dari semua itu adalah karena nafkah adan warisan merupakan nikmat Allah, maka tidak dibenarkan mendapatkan dengan jalan kedurhakaan dan kemaksiatan. Wallahua’lam bil ash-shawab

Dikirim pada 04 Juli 2012 di Uncategories


Allah Swt berfirman: “Maha suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Mesjidil Haram ke Mesjidil Aqsha yang telah Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. Al-Isra’: 1)

Ayat di atas menjelaskan kepada manusia tentang kekuasaa Allah, dan kesucian-Nya dari sifat-sifat yang tidak layak bagi-Nya. Di antara kekuasaan-Nya yang tiada taranya dengan kekuasaan makhluk, memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) dari Mesjidil Haram ke Mesjidil Aqsha dan selanjutnya menuju langit pertama sampai ke tujuh hingga Sidratul Muntaha, Arasy, Mustawa, dan Raf-raf, sebagaimana diterangkan di dalam Alquran surat an-Najm ayat 13-18.

Dimulai pengkisahan peristiwa isra’ dan mi’raj, dengan kata “subhâna” (Maha suci Allah) menunjukkan bahwa peristiwa isra’ dan mi’raj ini adalah peristiwa yang luar biasa yang hanya terjadi karena kudrat dan iradat Allah Swt, bukan atas kehendak Nabi Muhammad Saw. Hal itu dijelaskan pada kata setelah “subhâna” yaitu “asrâ bi’abdihî” yang mengandung arti transitif (menghendaki obyek), yaitu kebalikan dari lazim intransitif (tidak mengehendaki obyek). Artinya berjalan malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha dalam waktu singkat (biasanya 1 bulan perjalanan unta berlari pada waktu itu) semata-mata itu terjadi atas kehendak Allah Swt kepada kekasihnya Nabi Muhammad Saw sekaligus sebagai mu’jizat yang menjadi ujian iman bagi orang-orang yang memahami peristiwa yang luar biasa itu.

Awal dari kisah itu sebagaimaa dituturkan oleh Ummu Hani’, salah seorang sahabat Rasul Saw, dan juga sepupu beliau. Malam itu Nabi Muhammad Saw menginap di rumahnya, dan sesudah salat malam Ummu Hani’ tidur dan sebelum fajar Rasulullah membangunkan sepupunya itu, dan menceritakan bahwa beliau (Nabi Saw) setelah salat malam pergi ke Baitul Maqdis dan melaksanakan salat di sana kembali ke Mekkah. Dan setelah panjang lebar peristiwa itu diceritakan kepada Ummu Hani’, maka Ummu Hani’ mengusulkan agar peristiwa ini tidak diceritakan kepada orang banyak, khawatir mereka akan mendustakan Nabi Muhammad Saw dan mengganggu ketenangan beliau.

Akan tetapi, Nabi Muhammad Saw telah berketetapan hati untuk menceritakan kepada orang lain sesuai dengan pengalaman yang telah dijalaninya.

Mengingat perjalanan dari Mesjidil Haram ke Mesjidil Aqsha menenempuh waktu yang cukup lama yaitu 1 bulan perjalanan unta berlari, maka cerita itu ditolak oleh orang-orang kafir karena tidak rasional dan tidak masuk akal.

Bahkan sebagian orang Islam ada yang bimbang jika peristiwa itu terjadi dengan fisik dan ruh secara bersamaan. Sehingga para sahabat ketika itu terpecah menjadi dua kelompok. Kelompok pertama, menerima dan meyakini bahwa isra’ dan mi’raj benar-benar terjadi dengan fisik dan ruh Nabi Muhammad Saw tanpa mendasari atas pertimbangan rasional mereka itu diwakili oleh Abu Bakar Siddiq (dan penamaan Abu Bakar dengan Laqab/gelar Siddiq artinya percaya disebabkan oleh peristiwa itu).

Kelompok kedua, kelompok para sahabat-sahabat yang meyakini bahwa peristiwa isra’ dan mi’raj benar-benar terjadi, akan tetapi hanya dengan ruh saja, yaitu merupakan perjalanan ruhani Nabi Muhammad Saw. Kelompok ini mendasari keyakinannya atas ucapan Ummu Hani’ dan Aisyah yang menyatakan bahwa beliau semalaman tidur dan tubuhnya tetap saja di tempat tidur.

Dan pendapat yang terakhir ini dibantah oleh mayoritas ulama, karena perkataan Aisyah bahwa beliau tidak pernah kehilangan jasad Rasul Saw di waktu malam tidak dapat diterima, karena beliau belum bersama Nabi Muhammad sewaktu di Mekkah, karena sejarah membuktikan bahwa peristiwa isra’ dan mi’raj terjadi di Mekkah di Mesjidil Haram, sedangkan Nabi tidur bersama dengan Aisyah setelah beliau hijrah ke Madinah.

Perlu digaris bawahi, meskipun ada kelompok sahabat yang menerima peristiwa dan meyakini isra’ dan mi’raj itu terjadi dengan ruh saja, tidak dengan jasad dan ruh secara bersamaan, namun mereka tidak sampai menolak atau mengingkari peristiwa itu telah terjadi. Berbeda dengan orang-orang musyrik pada ketika itu dengan alasan tidak masuk akal mereka mengingkari dan mendustakan bahwa isra’ dan mi’raj tidak pernah terjadi pada diri Nabi Muhammad Saw, mereka itu diwakili oleh Abu Jahal dan kawan-kawannya. Ketika Nabi Muhammad Saw menceritakan hal ini kepada orang banyak, Abu Jahal meminta kepada Nabi Muhammad untuk mengangkat kaki sebelah, dan kemudian menyuruhnya untuk mengangkat kedua-duanya, tentu Nabi Muhammad tidak mampu melakukannya. Lalu bagaimana Nabi Muhammad S.a.w. bisa naik ke langit sedangkan beranjak dari temtap saja tidak mampu. Atas dasar ini orang kafir mendustakan Nabi Muhammad sekaligus apa saja yang disampaikan oleh Nabi, rasional atau tidak tetap mereka tolak.

Penulis memahami bahwa persoalan rasionalitas atau tidaknya peristiwa isra’ dan mi’raj tergantung pada pengalaman dan kepercayaan seseorang. Jika ada seseorang yang menceritakan kepada orang-orang primitif bahwa sebuah benda yang dipegang oleh seorang manusia bila dilepaskan tidak akan jatuh ke bawah tapi naik ke atas, lalu masyarakat primitif pasti menolaknya, karena orang primitif tidak pernah melihat seseorang yang melepaskan benda dari tangannya lalu terbang ke atas, dan konsekwensinya dia pasti tidak akan percaya sampai mati.

Demikian pula kalau seseorang tidak percaya pada seorang insinyur yang belum berpengalaman membangun gedung yang tinggi dan tidak percaya dengan hitungan matematika dan material yang diperkirakan, dapat dipastikan dia tidak yakin dengan ucapannya dan cara kerjanya. Apalagi seorang pilot yang mengendalikan pesawat yang belum mengantongi jam terbang yang tinggi dan tidak menguasai peta perjalanan, atau tidak mengikuti rumus peta penerbangan orang-orang yang telah berpengalaman sebelumnya, pasti mereka tidak akan mau terbang dengan pesawat secanggih apapun yang diterbangkan sang pilot tersebut.

Pada akhirnya orang-orang yang terlalu rasionalisme dan mengandalkan akal semata, mereka akan susah hidup, karena betapa banyak urusan kita yang kita percayakan kepada orang lain untuk menyelesaikannya, sedangkan kita hanya mendasari atas pengalaman mereka dan kepercayaan. Pantaslah kaum rasonalis dan liberalis sangat sulit untuk menerima doktrin-doktrin Islam karena mereka masih primitif dalam keislamannya. Wallahua’lam bil ash-shawab

Dikirim pada 02 Juli 2012 di Uncategories


Secara umum, Alquran mengelompokkan orang muslim dalam melaksanakan shalat kepada dua kelompok besar, pertama kelompok yang beruntung dan sukses dunia akhirat, dan kedua kelompok yang gagal dan merugi bahkan diancam Allah Swt dengan azab neraka karena shalat yang dilakukan tidak memenuhi tuntutan yang dibebankan kepadanya.

Kelompok pertama terdiri dari tiga partai, yaitu: Pertama, Orang-orang mukin yang khusus dalam melaksanakan shalat. Allah Swt berfirman: Sesungguhnya telah menang/ sukseslah orang-orang mukmin yang khusu’ dalam shalat mereka (QS. al-Mukminun: 1).

Shalat khusus’ secara sederhana diartikan “kepatuhan hati dan fisik kepada Allah Swt”. jika itu terpenuhi di dalam pelaksanaan shalat, maka dapat dikatakan sebagai khusu’ internal, jika kepatuhan tersebut diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari dinamakan khusus eksternal, karena penanaman khusu’ tidak hanya untuk pelaksanaan shalat saja, akan tetapi alam semesta yang taat dan disiplin menjalankan tugansya juga dapat dikatakan khusu’ kepada penciptanya. Allah Swt berfirman: Jika kami turunkan Alquran ini kepada gunung niscaya kamu akan melihatnya tunduk terpecah-belah disebabkan takut kepada Allah dan perumpamaan-perumpamaan itu kami buat untuk manusia agar mereka berfikir (QS. al-Hasyr: 21).

Shalat khusu’ diibaratkan seperti jasad dan ruh yang tidak dapat dipisahkan, karena kepatuhan fisik dan jiwa hanya ada pada manusia. Seekor binatang “lembu” yang terlihat patuh pada pemiliknua, hanya merupakan kepatuhan fisik, dan pada hakikatnya jiwanya berontak kepada majikannya karena dia paksa, dipukul, ditarik untuk senantiasa tunduk mengikuti majikannya. Padahal kepatuhan dan ketakutan yang muncul dari seekor lembu tadi hanya merupakan gerakan fisik yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan nurani kebinatangannya. Karena jika ketundukan dan kepatuahnnya muncul dari nuraninya, niscaya seekor lembu akan melaksanakan tugas-tugasnya sehari-hari tanpa paksaan dari majikannya, sebagaimana naluri kebinatangan untuk mendapatkan makan dan minum tanpa dipaksakan.

Oleh sebab itu, shalat khusu’ tidak hanya terbatas pada gerak-gerik badan, berdiri, ruku’, sujud semata, kana tetapi bagaimana menundukkan jiwa kepada Allah Swt dengan segala rintangan-rintangan yang selalu bertolak belakang dengan kesuciannya, seperti nafsu setan dan sebagainya.

Dan untuk sampai kepada kepatuhan jiwa, Allah Swt mengilhami instrik rasa takut kepada manusia, rasa takut mati, takut miskin, takut dizalimi, takut terhadap azab Allah, bahkan salah satu tujuan lahirnya Declaration of Human Right (Deklarasi Hak Azasi Manusia) adalah bebas dari rasa takut (freedom from fear) menurut versi Presiden Amerika Roosevelt (Buya Hamka, Tafsir al-Azhar, 1990).

Dengan demikian, akan timbul rasa pengharapan (raja’) kepada yang Maha ditakuti, dan hilanglah ras atakut kepada makhluk, karena biasanya jika ada “ketakutan besar” maka “ketakutan kecil” hilang dengan sendirinya. Adanya rasa takut (khauf) dan harap (raja’) dalam jiwa manusia, kepatuhan jiwa dan fisik (khusu’) akan dapat terpelihara baik dalam internal shalat maupun eksternal shalatnya.

Kedua, Orang yang mudawamah (berkekalan) dalam melaksanakan shalat. Kelompok shalat ini adalah orang-orang yang sudah terlatih mengerjakan shalat sejak kecil sampai usia dewasa. Shalat sudah menjadi kembaran hidupnya dalam menghadapi segala persoalan kehidupan ini. Ciri khas dari pada kelompok ini adalah mereka yang jiwanya tidka cepat keluh kesah, tidak cepat menyerah terhadap cobaan dan ujian hidup, karena ia yakin bahwa shalatnya sanggup melepas dan membebaskan dirinya daru sufat keluh kesah. Allah Swt berfirman: Sesungguhnya manusia diciptakan dalam keadaan keluh kesah, apabila disentuh kesusahan diapun gelisah, apabila disentuh kesenangan dia menutup diri, terkecuali orang-orang yang shalat dan mereka berketetapan (mudawamah) dalam shalatnya (QS. al-Ma’arij: 19-23).

Ketiga, Orang yang muhafazah (menjaga shalat). Kelompok yang ketiga ini adalah orang-orang yang menjaga pelaksanaan shalat, baik dari sisi waktu pelaksanaan, berjamah, menjaga dan memperhatikan serta merenung setiap gerak-gerik dan ucapan shalat yang dikerjakannya termasuk shalat-shalat sunat rawatib dan muqaddimal-muqaddimal pelaksanaan shalat sebelum dia memulainya.

Ciri khas mereka ini, adalah oran gyang mempunyai kepedulian sosial yang tinggi, mampu menjaga amanah, tidak mau bersaksi palsu, punya aurah yang terhormat, dan mereka dihormati dan menghormati orang lain. Allah Swt berfirman: Dan orang-orang yang menjaga amanah dan janji mereka dan orang-orang yang jujur dalam persaksian dan orang-orang menjaga shakat mereka, itulah orang-orang yang dimuliakan di dalam syurga kelak (QS. al-Ma’arij: 32-35).

Kelompok yang pertama, pada hakikatnya tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lain. Dengan arti kata, orang-orang yang berkekalan dan berketetapan dalam pelaksanaan shalat, orang-orang yang menjaga shalat, dan orang yang khusu’ shalat adalah berada dalam kelompok orang-orang yang sukses di dunia dan akhirat, hanya saja mereka dibedakan oleh karakteristik tersendiri, ada yang yang bercirikan kepatuhan yang tinggi, ada pula yang memiliki kepedulian sosial yang istimewa dari yang lain, dan ada pula yang tabah dalam menghadapi rintangan hidup, sesuai bagian yang didapat dari penghayatan dan pengalaman yang diambil dari filosofis shalat itu sendiri.

Kelompok kedua adalah kelompok orang-orang yang gagal dan terancam disebabkan kegagalannya dalam melaksanakan dan menghayati perintah shalat, mereka terdiri dari tiga partai.

Pertama, Orang yang meninggalkan shalat. Mereka itu orang-orang yang diancam dengan azab Allah di akhirat berupa azab neraka saqar. Allah Swt berfirman: Apakah yang menyebabkan kamu masuk ke dalam neraka saqar? Mereka menjawab: kami orang-orang yang meninggalkan shalat (QS. al-Mudatsir: 42-43). Ciri khas mereka di dunia ini adalah orang yang tidak memiliki kepedulian sosial, memperdalam persoalan-persoalan yang tidak penting yang tidak memberi maslahat kepada kepentingan pribadi maupun orang banyak, tidak mempercayai adanya hari-hari kiamat.

Kedua, Orang-orang pemalas shalat. Partai kedua ini terdiri dari orang-orang yang mempunyai sifat kemunafikan dalam diri dan kehidupannya. Allah Swt berfirman: Apabila mereka melaksanakan shalat, mereka bergerak malas, suka dan ria (pamer) dan tidak banyak ingat kepada Allah melainkan sedikit sekali (QS. an-Nisa’: 142). Ciri khas mereka adalah mereka yang melaksanakan shalat menurut kemauan sendiri. Kalaupun mereka melaksanakannya penuh dengan kemalasan, dan tujuan mereka supaya dipandang orang sebagai muslim yang taat. Padahal mereka bermuka dua dalam shalat, sebagian untuk Allah sebagian untuk manusia. Demikian pula dalam kehidupan bermasyarakat, mereka selalu bermuka dua demi untuk mencari keuntungan duniawi semata.

Ketiga, Orang-orang yang lalai dalam shalat. Allah Swt berfirman: Celakalah mereka yang melaksanakan shalat, sedangkan mereka lalai dalam shalatnya (QS al-Ma’un: 4-5). Ciri khas mereka adalah orang yang suka menghalangi orang yang ingin berbuat baik, kikir, dan tidak memiliki kepedulian sosial untuk membantu anak-anak yatim dan orang-orang miskin.

Dari uraian klasifikasi di atas dapat dipahami bahwa, tidak semua orang-orang muslim melaksanakan shalat, dan jika mereka shalat tidak semua mereka melaksanakannya sebagaimana mestinya, dan pada gilirannya mereka terbagi dua menjadi kelompok sukses atau kelompok gagal. Wallahua’lam bil ash-shawab

Dikirim pada 02 Juli 2012 di Uncategories
Awal « 1 » Akhir
Profile

“ Haji/Hajjah Windy Sihombing ini masih belum mau dikenal orang, mungkin masih malu. “ More About me

Page
Categories
Statistik
    Blog ini telah dikunjungi sebanyak : 261.019 kali


connect with ABATASA